ODOPfor99days

Si Kecil Penawar Rindu

Tak terpikirkan sebelumnya bahwa saya dan suami akan dikarunia malaikat kecil lebih cepat. Kami hanya berpikir, biarlah saja tidak akan terlalu cepat mendapat anak, kami ingin menikmati masa-masa berdua dulu, karena kami tidak melewati pacaran sebelum menikah. Apalagi status pernikahan kami LDM (long distance marriage), karena sering kali suami bekerja beberapa hari bahkan beberapa minggu di luar kota, pastilah waktu berdua pun menjadi waktu yang sangat didambakan.

Tetapi Allah ternyata berkehendak lain, hanya sebulan setelah pernikahan saya positif hamil. Ada suatu perasaan yang tak biasa, saya dan suami akan menjadi orang tua!! Dan pertanyaan yang mencuat di pikiran saya adalah ‘apakah kami siap?’. Perasaan saya bercampur aduk dengan pikiran yang tak karuan yang berasal dari ketakutan yang tak beralasan. Bagaimana kalau saya siap tapi suami tidak siap? Atau sebaliknya, bagaimana kalau suami siap tapi saya tidak siap? Bagaimana kalau kami atau salah satu dari kami terjangkit baby blues? Bagaimana kalau anak kami tidak terpenuhi kebutuhan psikologisnya karena menangkap sinyal ketidaksiapan dari orang tuanya? Saya tak tahu apakah harus takut atau senang, bahkan saya bertanya-tanya (peertanyaan yang sampai kini saya sesali) ‘ya Allah, apakah kehamilan ini tidak terlalu cepat?’

Fiuhhh!! Rasanya saya tak tahu harus berbuat apa, luapan emosi yang besar menguras tenaga saya. Saya memutuskan sebaiknya disampaikan semuanya kepada suami agar kami bisa saling memahami, tapi apa daya ketika saya ketahuan positif hamil, suami sedang tugas training di luar negeri yang perbedan waktunya 12 jam. Dari situ saya belajar mengelola emosi saya agar berita besar seperti ini bisa tersampaikan dengan baik dalam keadaan yang terbatas koneksi.

Berita ini pun saya sampaikan lewat video call (padahal dulu yang terpikirkan ketika menyampaikan berita ini inginnya surprise ala-ala sinteron tivi, hehe). Masih tergambar di memori saya ekspresi suami setelah saya menyampaikan berita ini, suami saya tersenyum simpul sambil memperlihatkan sebagian giginya. Ada rona bahagia dan tidak percaya. Ahh….perasan dan pikiran tak karuan itu pun terkubur sudah. Terima kasih pasangan hidupku, senyummu menguatkanku.

Masa-masa kehamilan memang bukan mudah untuk dilalui, terutama saya sebagai seorang wanita. Perubahan hormonal yang besar, membuat emosi saya naik turun. Apalagi kalau sudah didera rasa rindu pada suami yang sedang bekerja di luar kota. Rasanya ingin berteriak lalu menangis kalau sudah begitu. Ketika saya belum hamil saja, kalau sudah rindu pasti langsung hubungi suami, terbayangkan kan ketika sedang hamil gimana?hehe.

Sekarang, tak terasa bayi kecil kami sudah genap 6 bulan. Setiap minggunya ada saja pertumbuhan dan perkembangannya yang membuat kami tersenyum bahagia. Bahkan setiap suami bertugas ke luar kota untuk beberapa minggu, yang ditanyakan adalah perkembangan baru apa yang anak kami tunjukkan. Dan bagi saya, rindu yang sering kali muncul ketika suami sedang tak berada di sisi, sekarang bisa teralihkan dulu dengan adanya si kecil.

Begitulah Allah swt., sang pengatur urusan hamba-Nya. Dia tidak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Dia menghadirkan si kecil di antara kami orang tuanya yang berjarak oleh tempat. Anak kami menjadi penghubung hati dan pikiran kami yang terpapar bermacam emosi karena seringkali lama tak bersua. Dan karena kehadirannya, cinta kami terus terajut dalam pola yang semakin indah.

Hatur nuhun Gusti, alhamdulillah.

Selasa, 5 januari 2016

#ODOPfor99days #day2

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s