ODOPfor99days

MENUNGGU DALAM KE-PRODUKTIF-AN

‘Bunda, ayah pulang tanggal 20’, itulah pesan yang suami saya kirim ketika chatting melalui whatsapp beberapa hari yang lalu. Pesan yang serupa sering kali suami saya sampaikan ketika dia sedang bekerja di luar kota bahkan luar pulau untuk berminggu-minggu. Bagi kami yang menjalani LDM (Long Distance Married), suatu hal yang membahagiakan ketika tanggal pulang suami telah dijadwalkan, tapi sering kali kami dikecewakan dengan ditundanya pulang suami karena kerjaan yang molor waktu.

Ya begitulah resiko menjadi istri dengan style kerjaan suami seperti itu, berupaya bersahabat dengan kata ‘menunggu’. Tentu, bagi saya ataupun kebanyakan orang menunggu adalah hal yang sangat membosankan dan menghabiskan waktu. Tetapi bukan maksud saya menyatakan kalau menunggu suami pulang dari bekerja itu sangat tidak menyenangkan ataupun tidak bersyukur terhadap pekerjaan yang suami saya geluti. Bukan seperti itu, bahkan ketika suami akan pulang hati saya seperti anak ABG sedang falling in love yang akan segera bertemu kekasihnya.

Nah, maksud saya adalah kalau saya hanya berkutat dengan kerinduan terhadap suami tanpa melakukan hal yang produktif sudahlah waktu itu habis karena menuggu dalam kerinduan yang mendera (ya mana ada istri yang tidak rindu kalau ditinggal suami, betul?). Dulu sih saya pernah terjangkit kegalauan tingkat tinggi sebelum kami punya anak, kerjaan saya hanya pegang handphone saja karena menunggu chat dari suami, hehe. Masalahnya, kalau sedang good mood kemudian komunikasi terkendala koneksi yang jelek atau suami hanya membaca chat saya tanpa membalas (biasanya suami sedang kelelahan)tidak masalah, saya mengerti. Nah, kalau sedang bad mood  jadinya malah baper (terbawa perasaan) kalau kata anak zaman sekarang :D.

Maka dari itu, agar kegalauan itu tidak kambuh lagi, saya harus selalu produktif ketika suami sedang bekerja. Prinsip saya sih, suami di rumah, ya fokus semua untuknya dan tentu untuk anak kami. Tetapi kalau suami sedang bekerja, saya mencari kegiatan yang bisa mengalihkan kerinduan saya terhadap suami. Karena saya menggeluti profesi ibu rumah tangga, makanya harus cari kegiatan yang dapat beriringan dilakukan sambil mengurus anak. Saya sempat bingung mau melakukan apa, menggeluti hobi? masalahnya juga hobi saya jalan-jalan, yang ada malah menghabiskan anggaran rumah tangga kami, hehe. Memasak? tidak terlalu mahir, apalagi saya masih tinggal di rumah mertua, jadi canggung juga. Menjahitt? tidak punya mesin jahitnya, dan yang paling penting saya gak bisa jahit sih :D. Bercocok tanam? tidak ada lahan. Merakit komputer? itu bukan keahlian saya, itu keahlian suami.

Terus apa dong kegiatannya?

Alhamdulillah, Allah mengerti saya yang sedang kebingungan. Akhirnya, sekarang saya menemukan kegiatan produktif saya dan yang paling penting adalah saya menikmatinya. Pertama, saya berjualan pakaian online dengan sistem reseller-dropship, belum lama memang, tapi ternyata saya jadi reseller dengan pencapaian tertinggi bulan November kemarin. Saya jadi seperti menemukan passion yang tersembunyi.

Kedua, saya bergabung dengan komunitas ibu-bu hebat yang berkomitmen untuk membiasakan menulis dalam 99 hari. Dari dulu saya sangat ingin menjadi seorang penulis, tapi ada saja godaan yang membuat saya susah untuk memulai. Apakah itu berpikir tidak bisa atau tidak bakat, dan lain sebagianya. Tetapi dengan izin Allah, melalui komunitas ini, tidak ada lagi pikiran seperti itu. Semoga memang inilah jalannya untuk saya membiasakan diri menulis sepanjang hidup saya.

Terakhir, saya mengikuti halaqoh tahfidz, yang akan dimulai minggu besok. Saya dan suami sangat ingin memiliki anak yang hafidz/hafidzoh. Kalau menurut suami ‘otak penghafal Quran itu akan jalan terus, gak akan berhenti untuk berpikir’. Ya in syaa Allah anak kami akan lebih cerdas dengan menghafal Al-Quran. Maka dari itu, saya ingin menjadi contoh bagi anak kami kelak dalam menghafal Al-Quran. Rasanya malu juga ya, mengharapkan anak menjadi hafidz/hafidzoh, tetapi orang tuanya tidak berusaha untuk menjadi hafidz/hafidzoh? hehe. Semoga Allah memudahkan ya šŸ™‚

Nah, itulah kegiatan produktif yang saya jalani sekarang. Kalau para jomblo-ers yang belum menikah punya slogan ‘menunggu dalam ketaatan’, kalau slogan saya ‘menunggu dalam ke-produktif-an’

 

#ODOPfor99days #day9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s