Matrikulasi IP

Nice Homework #3 : Surat Cintaku yang Pertama

Surat cintaku yang pertama

Membikin hatiku berlomba

Seperti melodi yang indah

Kata-kata cintanya

Padaku

Sudah pasti pada tahu lah ya, Surat Cintanya Vina Panduwinata ini. Kalau denger lagu ini tuh hati rasanya berbunga-bunga meski saya belum pernah tuh dikasih surat cinta. Hehe..

Tapi 2 hari yang lalu, saya kasih surat cinta untuk suami loh. Tumben ya? Eh gak tumben sih sebetulnya.

Beberapa kali saya menulis surat untuk suami tersayang melalui email, memang bukan pure surat cinta sih, melainkan surat curhatan saya. Maklum, saya dan suami penganut aliran Long Distance Marriage, jadi kalau kata tak sempat terucap langsung, surat lah yang bisa menghubungkan kita (khususnya saya sebagai wanita, tahu kan kalau wanita lebih butuh banyak bicara? :D).

Jadilah surat yang saya tulis 2 hari kemarin adalah surat cinta pertama saya untuk suami semenjak kami menikah.

Emang ada apa ya, tiba-tiba nulis surat cinta?

Jawabannya karena lagi-lagi NHW Matrikulasi Ibu Profesional memberi tugas yang sensasinya luar biasa. Kita sebagai peserta matrikulasi diminta untuk menuliskan surat cinta kepada suami (bagi yang sudah menikah) dan harus melaporkan bagaimana responnya. Jadilah para emak-emak ini dag-dig-dug ser nunggu respon suaminya setelah dikasih surat cinta.

Well, mau tahu respon suami saya?

‘tuh kan, aa teh cool ( dan disisipi emotikon yang sedang bersiul)’ 

Begitulah balasan chat suami saya, setelah saya kirimkan surat cinta melalui WhatsApp. Saya kecewa? Sama sekali tidak, saya malah tertawa saat suami saya koreksi tulisan saya yang salah. Yang harusnya tertulis candle light dinner eh malah tertulis candy light dinner, hihi…

Ya dialah suami saya, bukan tipe suami romantis yang senang mengumbar kata cinta atau memberi buket bunga. Tapi dialah suami saya yang cool, yang apa adanya, yang prinsipnya ‘tidak boleh sombong, kecuali ke istrinya’, yang tak banyak kata tapi bertindak nyata, dan penuh perhatiannya.

Terbukti dengan chat selanjutnya yang membuat saya senang sekali. Suami mengajak saya dan anak ke suatu tempat, kemanakah itu?

‘Bunda, ayah ke Garutnya hari seninnya yah. Kan pulang dari Thailand-nyaSabtu, Minggu di Jakarta. Senin baru ke Garut pulang.’

‘Ke Jakarta yuk!’ (maksudnya mengajak saya dan anak untuk menyusulnya ke Jakarta)

‘Kita ke Ragunan, hari Minggunya. Senin ayah medical check up deket kantor lama kok  (dekat ragunan)’ 

Hehe, ya memang hanya mengajak ke Kebun Binatang Ragunan, karena niat hatinya yang ingin mengajak anak kami melihat binatang secara real. Tapi itulah bentuk romantisme yang ditunjukkannya, yaitu melalui sikap dan tindakannya. Talk less do more! 

Foto suami yang sedang training di Thailand

Tugas NHW #3 ini bukan hanya surat cinta saja, tapi ada 3 poin lagi yang harus saya jawab. Nah, jawabannya saya tulis di blog post yang berbeda saja ya biar tidak kepanjangan  [Klik disini: Nice Homework #3 Membangun Peradaban dari dalam Rumah]

Bagi yang penasaran dengan materinya bisa juga nih klik [ Materi Matrikulasi Ibu Profesional #3 batch 2 : Membangun Peradaban dari dalam Rumah]. Dijamin materinya super lezat :D.

Oia, ini dia surat cinta pertama yang saya tuliskan. Ini versi sudah dikoreksi oleh suami 🙂

Kasihku, 

Aku tak tahu harus mulai dari mana sebetulnya. Mau dibilang pintar merangkai kata aku tak terlalu piawai. Mau dibilang romantis, aku pun bukanlah tipe yang terlalu romantis, terbukti aku pernah lupa tanggal ulang tahunmu bukan? Niat hati ingin memberi kejutan berupa kecupan, tapi fitrahku sebagai manusia tak terelakkan, lupa..

Ah…apalagi membuatkan makanan enak untukmu, aku belum bisa, maafkan aku…

Kasihku, 

Aku juga tahu kau bukanlah tipe suami romantis, yang senang memberikan seikat bunga atau memberi kejutan candle light dinner. Tapi sikapmu yang khas itulah sebenarnya romantisme yang kau berikan. Sikapmu yang cool tapi penuh perhatian yang membuatku berulang kali jatuh cinta. 

Kasihku, 

Banyak hal yang kita lalui, sedih-senang, marah-kecewa, bahkan sering kali kita salah paham. Tapi lagi-lagi karena sikapmu -yang ku tahu sangat menyayangiku-, kau dengan terbuka membuka hati dan pikiranmu untuk sama-sama memperbaikinya sehingga kembali lagi kata maaf dan cinta yang kau ucap. 

Kasihku, 

Sekarang kita sudah punya si kecil Raaiq yang cerdas. Dialah yang menyempurnakan kita sebagai keluarga. Dan dengan melihat Raaiq setiap hari bertambah pula cintaku padamu. 

Kasihku, 

Dari dulu aku yakin, kau adalah ayah terbaik yang akan dimiliki anak-anak. Dan perlahan kau memang membuktikannya. Perhatian tulusmu, kasih sayangmu, kebijaksanaan dan ketegasanmu dalam mendidik membuatku terus kagum padamu. Dan tak kalah penting adalah sikap kooperatif mu yang membuat kita bisa bertahan sebagai orang tua baru. 

Ya, kita terus belajar dan akan terus belajar menjadi orang tua terbaik. 

Sayang, aku berharap cinta yang kita miliki terus segar sampai ajal menjemput kita. Kita selalu terkagum satu sama lain sampai tulang kita tak terlalu kuat menopang badan. 

Cinta, jika pun dunia akan membuat kita berpisah, aku terus berdo’a agar kelak kampung akhirat menjadi tempat kita bersatu kembali. Insyaa Allah. 

Aku yang selalu merindukanmu, 

Sofi (calon pasangan akhiratmu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s