Matrikulasi IP

Nice Homework #3 : Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Setelah diminta untuk jatuh cinta kembali terhadap suami dengan membuat surat cinta [klik disini : NHW #3 Surat Cintaku yang Pertama], masih ada 3 poin pertanyaan  yang harus saya jawab. Baik, saya mencoba menjawabnya satu-satu.

Pertama, Lihat anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing 

Mungkin kalau bicara potensi, saya masih dalam tahap mengeksplorasi diri saya untuk menemukan potensi Raaiq melalui stimulus-stimulus yang saya berikan. Acuan saya dalam memberi stimulus biasanya  literatur tentang milestone (tugas perkembangan) anak  dan juga tentang kecerdasan majemuk-nya Howard Gardner.
Tugas Perkembangan

Jika ditinjau dari beberepa aspek perkembangan, seperti aspek  moral/nilai agama, fisik, kognitif, bahasa, sosio-emosional, dan kemandirian. Maka berdasarkan observasi yang saya lakukan, perkembangan yang ditunjukkan oleh Raaiq, anak saya yang berumur 16 bulan, sudah sesuai dengan tahap usianya dan terus berkembang pesat.

Kecerdasan dan Gaya Belajar 

Raaiq memiliki modal kecerdasan yang masih harus dikembangann kedepannya, baik kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, maupun kecerdasan eksistensial. Sehingga masuk usia 7 tahun, sudah bisa dilihat kecerdasan Raaiq cenderung kemana.

Kalau dilihat dari gaya belajar (visual, audio, atau kinestetik), Raaiq cenderung memiliki gaya belajar kinestetik (saya katakan cenderung, karena gaya belajar visual dan audio bukan berarti tidak ada atau bahkan di kemudian hari akan berubah gaya belajarnya)

Mengapa gaya belajar kinestetik?

Ada yang tahu senam disko-nya warkop DKI? Itu yang gerakannya seru dan biasanya dipakai ice breaking di training. Nah, anak saya bisa meniru gerakannya dengan benar dan runut setelah selama 1 hari diperlihatkan gerakanya. Raaiq juga bisa menyelaraskan gerakan antara gerakan pada irama cepat dan irama lambat. Maka dari itu, untuk sekarang saya coba untuk memanfaatkan gaya belajarnya dalam menghapal Al-Quran, yaitu dengan memperlihatkannya video anak penghapal Al-Quran yang memakai metode gerakan.

Semoga kedepannya saya dapat terus mengoptimalkan modal kecerdasan yang dimiliki Raaiq. Aamiin.

Karakter

Sejauh ini, karakter baik yang dapat menjadi pondasi dalam berkembang lebih baik adalah : rasa ingin tahu yang tinggi pada hal yang baru, pantang menyerah untuk menguasai suatu kemampuan (dapat terlihat ketika belajar berdiri maupun berjalan, sering jatuh tapi tidak mengeluh/menangis), juga penyesuaian diri yang sangat baik terhadap lingkungan baru.


Kedua, Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda, kemudian tengok kembali anak dan suami , silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki. 

Cara Berpikir

Kalau diibaratkan magnet saya dan suami memiliki kutub yang berbeda, saya kutub utara dan suami kutub selatan. Tapi perbedaan itu membuat kami saling tarik menarik. Suami adalah anak teknik yang notaben memiliki cara berpikir yang saklek. Sedangkan saya, yang anak sosial memiliki cara berpikir yang lebih luwes. Jadi kalau sedang butuh ketegasan pada suasana tertentu suami jagonya, tapi kalau untuk mencairkan suasana boleh ketuk pintu hati saya. #eh… :D.

Selain itu, saya sebagai istri lebih ekspresif dibandingkan dengan suami, jadi mengerti kan kenapa respon suami seperti itu ketika membalas surat cinta saya? Hihi. Hanya saja suami saya orangnya gerak cepat, sedangkan saya cenderung santai, ini juga dapat dipahami mengapa saya di awal menyebutkan bahwa kami seperti tarik menarik. Jadi ketika saya sedikit santai, suami bisa menarik saya untuk bisa bergerak cepat, sedangkan sekiranya suami terlalu cepat dalam bergerak (misalnya mengambil tindakan frontal dalam menyelesaikan masalah), maka saya akan menariknya ke sisi yang lebih santai.

Kecerdasan

Lagi-lagi kalau dari kaca mata kecerdasan majemuk. Kekuatan saya ada di area linguistik dan interpersonal, sedangakn suami ada di area matematis-logis dan spasial-visual. Maka tak aneh kalau hobi suami saya itu berhubungan dengan komputer, teknologi, mesin, dan hal-hal teknis yang membutuhkan pemikiran logis. Sedangan saya senang bebicara, menuliskan kata-kata, dan juga menghangatkan suasana. Tapi ada satu kesamaan kecerdasan yang kita miliki, yaitu kecerdasan intrapersonal, yaitu introspektif ataupun senang meditasi, sehingga dengan modal kecerdasan tersebut kami menjalin komunikasi dengan sangat baik sampai saat ini, Alhamdulillah.

Maka saya pikir, mengapa Allah menakdirkan saya berada dalam keluarga ini yaitu untuk memberi warna dan terwanai. Artinya saya memberi warna pada kehidupan suami yang bisa dibilang cenderung serius, dan juga terwarnai oleh kehidupn suami agar tidak terlalu santai.

Yang pada akhirnya, hasil dan proses mewarnai dan terwarnai itu (baik suami maupun saya), menjadi modal untuk menemukan pola asuh dan pola didik yang otoritatif terhadap anak.


Ketiga, lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Tantangan yang kami hadapi :

1.Keadaan kami yang Long Distance Marriage 

Tak seperti keluarga pada umumnya, yang setiap hari bertemu. Kami bisa tidak bertemu sampai sebulan lamanya. Maka kemampuan saya dalam menjalin komunikasi lewat bahasa yang tepat menjadi modal kami tetap dapat berkomunikasi dengan sehat. Selain itu, hobi suami terhadap komputer dan teknologi membuat kami menjadi keluarga melek multimedia sehingga suami selalu tahu aplikasi apa saja yang dapat memudahkan kami untuk berkomunikasi.

Selain itu, keinginan kuat saya untuk mendedikasikan diri terhadap keluarga memudahkan kami dalam menjalani rumah tangga ketika suami tidak ada (sedang bekerja).

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana anak saya kelak kalau ayah dan bundanya sering kali tidak ada di sampingnya dalam masa pertumbuhannya. Setidaknya ketika suami bekerja saya menjalankan peran saya secara optimal agar anak tetap dalam pengawasan orang tuanya sendiri.

Begitu pula ketika suami pulang, saya akan dapat menemaninya sepanjang waktu karena tidak terikat dengan pekerjaan apapun.

2. Tinggal dekat dengan orang tua dan saudara (layaknya orang Sunda keumuman, yang berkumpul bersama dalam 1 wilayah tertentu)

Pasti ada saja prinsip-prinsip mendidik anak yang berbeda atau bersinggungan dengan pola didik orang tua ataupun saudara lainnya. Maka in syaa Allah, mengapa Allah menjodohkan kami, karena Alhamdulillah kami memiliki pola komuniaksi yang baik, juga memiliki kesamaan visi dan misi mendidik anak yang selaras. Sehingga ketika prinsip yang kami anut berbenturan dengan lingkungan sekitar, kami selalu memasang ‘barikade pertahanan’ yang kuat.

Tugas suami adalah seperti kepala sekolah yang memiliki ketegasan dan komitmen kami dalam mendidik, sehingga orang lain tidak mudah untuk mempengaruhinya. Dan saya sendiri sebagai pembuat kurikulum sekaligus bagian Human Relationship, menjadi konseptor juga sebagai ‘corong’ terdepan ketika bersinggungan dengn lingkungan. Maksudnya saya selalu mencoba memberi pemahaman kepada orang di sekitar (tentu memakai bahasa yang santun dan tepat) ketika ada orang sekitar yang tidak setuju dengan pola didik yang saya dan suami terapkan untuk anak.


Sudahkah kami menemukan peran spesifik?

Mungkin kami belum bisa sepenuhnya mengetahui peran spesifik keluarga kami. Tetapi setidaknya kami ingin menjadi agen pasangan ‘Long Distance Marriage’ yang berkualitas karena memiliki pondasi keluarga yang kokoh. Selain itu, kami ingin menebar kebermanfaatan terhadap lingkungan dengan mengandalkan potensi  kami yang telah dijabarkan di atas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s