ODOPfor99days2017

Kenangan Sederhana di Simlim Garut 

Hmm..kalau ditanya tentang kampung halaman, yang pasti saya akan jawab kalau Garut itu kampung halaman saya setulen-tulennya. Dari mulai ibu, bapak, enin (nenek dari ibu), aki (kakek dari ibu), umi (nenek dari bapak),  aba (kakek dari bapak), emang (paman), bibi, uwa semuanya 100% asgar alias asli Garut alias orang Sunda asli.

Tak ada dari keluarga besar saya blasteran Sunda-Jawa, Sunda-Bugis, apalagi blasteran Arab atau Eropa 😎. Blasteran dengan kota sebelah aja paling cuma 2 keluarga. Makanya dulu ingin punya suami bukan orang Garut, yaa Bandung lah minimal, hehe..

Daaan,

Allah memang punya hadiah spesial untuk saya, yaitu dijodohkan dengan suami yang cuma bertetangga kecamatan saja di kota Garut yang luas ini 😂. Jarak rumah kami hanya bisa ditempuh selama 7 menit memakai motor dengan kecepatan 40km/jam. Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal, Allah selalu punya sekenario unik untuk para hamba-Nya ya.

= = = = = = = = = = = = = = =

Kalau zaman dulu saya kecil, kenangan saya berlabuh di  Bundaran Simpang Lima, Tarogong Garut. Biasanya orang disana menyebutnya bundaran simlim ataupun patung simlim, karena memang ada patungnya juga disana.

Banyak momen kenangan di bundaran itu, mulai dari foto bareng patungnya yang harus naik temboknya dulu setinggi 1 meteran (kalau sekarang dianggap gak sopan kali ya), lari-lari ala india di antara tanaman wareng nya, berjalan di jalan-jalan kecilnya yang dilapisi paving block, sampai keliling-keliling bundaran memakai sepeda bututnya paman saya.

Oia, patung di simpang lima itu memang jumlahnya ada 5 juga, 3 patung prajurit, 1 patung ulama/kyai/ustadz, dan 1 lagi patung wanita. Tapi sekarang hanya tinggal 4, entahlah kemana patung prajurit yang 1, mungkin karena sudah keropos struktur semennya, akhirnya dihilangkan saja karena terlihat tidak estetis.

5 patung itu menggambarkan perjuangan bangsa ketika zaman perang dulu. 1 patung ulama bersorban dengan pembawaan yang khas dan terlihat bijaksana, 1 patung wanita yang membawa bakul, dan 3 patung prajurit penuh semangat yang 2 diantaranya membawa bambu runcing dan bendera. Tapi sangat disayangkan, bambu runcing dan benderanya pun sudah tak ada sekarang. Mungkin nasibnya sama dengan 1 patung prajurit yang hilang tadi.

Bagi saya yang suka dengan sejarah, patung simpang 5 ini punya filosofi yang bagus. Selain memang banyak kenangan masa kecil disana, juga mengingatkan saya bahwa sebuah kemenangan itu adalah hasil dari perjuangan, kerja sama, dan doa. Layaknya para prajurit yang bekerja sama melawan penjajah, dibantu peran dari para ibu dibelakangnya, juga para ulama yang ikut berjuang, banyak memotivasi dan menjadi figur contoh bagaimana ketenangan dan doa bisa menggenapkan perjuangan bangsa.

Dulu, bundaran simlim ini jadi spot favorit masyarakat sekitar untuk sekedar bermain maupun berfoto. Meski posisinya di tengah jalan (ya namanya juga bundaran kan, hehe), tapi dulu bundaran simlim sekelilingnya dipagari. Jadi tak ada kekhawatiran jatuh ke jalan atau terganggu mobil yang lalu lalang. Selain itu, dulu bundaran ini dikelilingi tanaman wareng yang cukup tinggi, jadi tak malu-malu untuk berfoto ria.

(Sayang, belum nemu foto bundaran simlim zaman dulu nih. Album fotonya ada di rumah aki dan entah itu pun tersimpan dimana, heuheu)

Sekarang,

Bundaran simlim ini tak banyak yang mengunjungi, hanya sebagai taman penghias kota saja, apalagi memang bundaran ini sudah dirombak kesekian kalinya dan jadinya tidak ada space untuk berjalan menuju patungnya. Hanya dikelilingi, kolam, air mancur, tanaman hias, dan lampu taman saja.Jarang ada orang yang foto-foto disana, padahal saya mah ingin banget bisa foto lagi disana 😂.

Bundaran Simlim Sekarang, Januari 2017

Faktor lain kenapa tidak banyak orang yang mau foto disana, ya karena sekarang di Garut spot untuk foto sudah tersebar dimana-mana.

Mau foto di tempat wisatanya? Banyaaaak.

Selain wisata pemandian air panas di Cipanas dan deratan hotelnya, di Garut juga tersebar destinasi wisata mulai dari laut, gunung, curug, perkebunan, desa wisata, termasuk wisata kuliner yang sedang menggeliat ada deh di Garut.

Pernah dengar Gunung Papandayan? Gunung Cikuray? Talaga Bodas, Situ Cangkuang, Situ Bagendit, Curug Orok, Pantai Sayang Heulang, Pantai Ranca Buaya, Pantai Pameungpeuk, Puncak Guha, Karacak Valley, Desa Wisata Domba, Taman Bunga, Sentra Kulit Sukaregang, Chocodot, dan lain-lain, dan lain sebagainya, dan seterusnya :D.

Hehe, malah ngobrolin wisatanya ya, tak apalah sebagai masyarakat asli yang budiman promosiin kota sendiri semoga jadi pahala.

Okelah, itulah kenangan saya di bundaran simlim. Kamu yang orang Garut, punya kenangan apa di kampung halaman tercinta kita ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s