Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Keep Calm, Mom.

Jumat, 27 Januari 2017

Seorang perempuan itu ditakdirkan menghasilkan jumlah komunikasi lebih banyak dibanding dengan seorang laki-laki. Sekitar 20.000 jumlah komunikasi dihasilkan oleh seorang perempuan setiap harinya, sedangkan laki-laki hanya sekitar 7.000 saja jumlah komunikasinya. Itu berarti seorang perempuan menghasilkan jumlah komunikasi tiga kali lipat dari seorang laki-laki.

That’s why, perempuan biasanya memang senang berbicara, apalagi kalau sedang mengungkapkan isi hatinya. Tak terkecuali saya yang punya keyakinan kalau lancarnya komunikasi itu salah satu cara merawat sebuah pernikahan.

Kalau suami sedang di rumah, tak anehlah jika banyak hal yang saya obrolkan, dari mulai persoalan dapur hingga ukuran sepatu anak kami yang menjadi naik satu nomor, hehe. Makanya, kalau saya tak banyak bicara, suami kadang aneh, ‘tumben, diem aja’, atau paling tidak suami tahu kalau istrinya sedang ngambek, hihi. Tak apalah itu bumbu masakan, eh bumbu pernikahan maksudnya 😁.

Nah, kalau suami sedang bekerja di lokasi yang susah sinyal, selain berdoa atas rasa khawatir akan keselamatan sang kekasih, ada keresahan juga saat kata tak bisa terucap. Banyak hal yang ingin disampaikan kepada suami. Jadi kalau suami online WhatsApp, saya tanya-tanya lah beliau, sehatkah? Lagi ngapain? cerita tentang perkembangan terupdate anak, sampai urusan token ebanking yang ketinggalan di rumah. Maklum ada rasa rindu membuncah terhadap suami sehingga kata-kata pun keluar spontan sebagai bentuk kerinduan. Satu hal lagi yang ada di benak saya, ‘kalau tak disampaikan sekarang takut kelupaan kalau bertemu’.

Ada yang salahkah jika saya bercerita panjang lebar di chat?

Bisa jadi ada yang salah, karena belum tentu suami sedang lengang ataupun mungkin sedang cape banyak kerjaan. Karena biasanya kalau sudah tak ada tanda tanya dari saya di chat, sudah tak ada balasan lagi. Ataupun kalau saya bertanya dan bercerita panjang lebar malah tidak ada balasan, hehe.

Dan, setelah saya mengikuti kuliah bunda sayang IIP tentang komunikasi produktif, jelas apa yang saya lakukan terhadap suami sedikit banyak menyalahi kaidah komunikasi yaitu choose the right time (khususnya ketika suami sedang bekerja), saya harusnya bisa lebih menahan diri untuk banyak berbicara dan menunggu waktu yang lebih tepat, misalnya saat suami benar-benar sedang santai dan tidak sedang diterpa kelelahan. Atau bisa saja, saya menuliskan apa yang akan saya sampaikan biar tidak lupa, jadi kalau suami sudah pulang, barulah diutarakan. Jadi kelancaran komunikasi tetap terjaga.

Makanya sekarang, ketika suami online untuk memberitahu bahwa akan melakukan perjalanan ke lokasi (susah sinyal) atau menanyakan sesuatu, saya hanya membalasnya dengan tanggapan yang jelas dan padat, tapi tak lupa ada seucap doa juga untuk dirinya.

Dan suami pun, membalas dengan padat dan jelas pula. Itu artinya memang tak banyak waktu suami untuk membalas atau menjelaskan panjang lebar, apalagi terkait sinyal yang hilang muncul.

Saya belajar dari suami kalau sedang kerja itu fokus kerja dan kalau sedang dengan keluarga, beliau simpan rapat-rapat perihal kerja. Jadi sebagai istri, saya harus lebih menghargai waktu suami jika sedang kerja, karena artinya fokus beliau sedang terkuras banyak di kerjaan. So please keep calm mom, and choose the right time, yes!

#Hari3

#Tantangan10hari

#KomunikasiProduktif

#KuliahBunsayIIP



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s