Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Positive Mom, Positive Child, Positive Family

Beberapa minggu ke belakang agaknya terasa berat saya lalui. Datangnya tawaran menjadi observer di salah satu SD swasta di kota ini, menjadi ‘kegalauan’ tersendiri bagi saya yang sudah menggeluti peran full time mom selama kurang lebih 2 tahun.

Keinginan yang kuat menjadi full time mom memang diperkuat dengan hadirnya anak di keluarga kecil kami. Tak ada keinginan yang lebih besar, selain menjadi pendidik utama dan pertama yang berkualitas bagi anak-anak saya. Apalagi setelah saya mengikuti matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) akhir tahun 2016 kemarin, semakin jelaslah apa yang saya inginkan dalam menjalani hidup ini. 

Dimulai dari tahap (1) meningkatkan kualitas menjadi ibu yang paham bagaimana mendidik anak dengan baik, (2) mengelola rumah tangga dan keluarga agar menjadi keluarga unggul, (3) bagaimana bisa mandiri secara finansial tanpa meninggalkan anak dan keluarga, (4) selanjutnya bagaimana menjadi seorang agent of change yang membawa virus perubahan bagi masyarakat.

Tahapan itu harus dilalui satu per satu, jika ada tahap yang terlewat, maka diperlukan energi yang kuat untuk bisa menguasai skill-skill tahapan sebelumnya yang terlewat itu.

Kalau mengukur diri, sekarang saya baru membangun pondasi di tahap pertama, dan tawaran menjadi observer itu seakan ‘menyuruh’ saya untuk meloncat ke tahap 4. Awalnya saya bergeming tak akan mengambil tawaran tersebut. Tapi akhirnya, qadarullah ada beberapa pertimbangan yang mendorong saya akhirnya mengambil tawaran tersebut (setelah diskusi dengam suami).

Baru 2 hari saya masuk kerja, dan kegalauan itu semakin menjadi setelah melihat reaksi anak ketika dititipkan di fasilitas daycare sekolah. Baginya ini adaptasi yang berat, karena biasanya setiap hari yang menemani adalah saya, ibunya. Kini dia harus belajar ‘bergaul’ dengan lingkungan dan orang yang masih asing. Bagi saya? Saya benar-benar tidak tega ketika melihat anak menangis tersedu-sedu karena mencari ibunya tidak ada di sampingnya. Sungguh berat.

Perlu proses bagi kami untuk melalui ini. Terutama adalah bagi saya. Saya harus selalu berpikir positif juga optimis kalau kami bisa melaluinya.

Itu pun yang saya pelajari di kelas Bunda Sayang IIP tentang materi komunikasi produktif. Semakin saya berusaha melakukan komunikasi produktif, semakin saya menyadari bahwa patokan komunikasi produktif adalah pikiran yang positif. Karena dari pikiran yang positiflah, pemilihan kata (diksi) yang keluar dari mulut kita pun akan menjelma positif. 

Kata susah diganti dengan kata menarik.

Kata masalah diganti dengan kata tantangan.

Karena kata-kata itu membawa energi, maka kata-kata yang postiflah yag akan membawa energi positif.

Tak bisa dipungkiri kalau keputusan untuk menerima tawaran sebagai observer itu, mengukir sedikit rasa penyesalan dalam diri saya. Apalagi melihat anak yang belum 100% bisa jauh dari saya, juga suami yag tidak setiap hari menemani kami. Awalnya saya memandang ini sebagai masalah bagi keluarga kami, karena kami belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, dan ini sangat mengganggu ‘stabilitas’ kenyamanan keluarga kami.

Tetapi tak ada pilihan lain selain berubah untuk lebih berpikir positif. Sehingga ketika memahamkan anak tentang kondisi saya yang harus berbagi dengan lingkungan sekitar pun dapat disampaiakn dengan kata-kata positif agar energi positif dapat mengalir di diri anak.

‘Ka, sekarang Bunda mau bantu kakak-kakak belajar dengan baik di sekolah. Maaf ya 3 hari seminggu Bunda tidak bersama kaka, in syaa Allah hari yang lain Bunda akan bermain dengan kaka dengan hati riang.’

‘Kaka yang anteng ya, in syaa Allah kaka akan bisa mandiri dan berani meski bunda tidak ada. In syaa Allah kita bisa melalui ini ka.’

‘Kaka harus tahu, kalau Bunda tetap sayang kaka.’

Itulah yang saya usahakan perdengarkan dan sampaikan kepada anak setiap harinya.

Bagaimana dengan suami? Alhamdulillah mendukung dan selalu berusaha membantu saya menghadapi tantangan bagi keluarga kami ini.

Semoga Allah SWT memampukan kami beradaptasi dengam baik.

Positive mom, positif child, positive family.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = 

[Tulisan ini dipersembahkan untuk 1 minggu 1 cerita sebagai upaya penulis dalam meningkatkan semangat menulis, juga sebagai bukti keikutsertaan challange 10 hari kelas Bunda Sayang IIP day 4]

Advertisements

2 thoughts on “Positive Mom, Positive Child, Positive Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s