ODOPfor99days2017 · Reflection

Maaf Orisinal vs Maaf KW

Berdasarkan info yang beredar di dunia fana ini, maaf adalah salah satu kategori kata ajaib berdampingan dengan kata tolong dan terima kasih. Disebut ajaib mungkin karena kata ini bisa ‘melunakkan’, ‘meluluhkan’, ataupun ‘mencuri’ hati orang yang mendengarnya.

Yang tadinya tidak mau melaksanakan perintah, akhirnya hatinya ‘tercuri’ karena mendengar kata tolong. Yang tadinya tidak ikhlas menolong, akhirnya ‘luluh’ karena ada kata terima kasih di akhir percakapan. Yang tadinya bergeming tak mau mentolerir kesalahan kawan, akhirnya ‘lunak’ memberi ampun karena kata maaf mengiringi penyesalan Sang kawan.

Sumber : WAG 1minggu1cerita

Kalau menurut saya (ditambah sedikit referensi dari kamus Tesaurus Bahasa Indonesia), maaf adalah kata santun yang diucapkan untuk memohon pengampunan atas suatu perbuatan atau ucapan yang tidak seharusnya.

Tapi, rasanya sering kali maaf hanya jadi penghias untaian kalimat saja. Salah satunya untuk sekedar menghapus memori kesalahan kita di mata orang lain, akhirnya kata maaf pun keluar lagi, bahkan untuk kesalahan yang sama. Apalagi bagi kita-kita ini yang sudah masuk kategori dewasa dengan kategori masalah yang beragam, bisa jadi maaf banyak diucapkan ketika konflik menghampiri. 

Tapi apakah maaf ini sudah efektif untuk menghindari kesalahan yang sama? Apakah maaf ini sudah datang dari hati yang benar-benar tulus? Atau hanya sekedar kalimat hampa tak bernyawa?

Makanya saya berpikir, kata maaf itu tak cukup jadi kata ajaib saja, tapi sudah harus dikategorikan kata eksklusif.

Seperti halnya barang orisinal dengan barang KW. Kalau barang KW umumnya mudah didapat, bertebaran dimana-mana. Tetapi barang orisinal? Hanya orang-orang terpilih yang akan mendapatkannya, karena barangnya limited dan menjadikan orang yang memakainya terkesan eksklusif.

Begitu pun dengan maaf yang sekedar maaf alias KW. Tak ada aliran rasa tulus di dalamnya, tak ada niatan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan, yang ada hanya rasa hambar yang terkesan manis. Tapi maaf yang orisinal, membuat orang yang mengucapkannya terpacu menjadi lebih baik, aliran rasa tulus sampai pada yang menerima maaf, dan bisa menghapus luka yang sebelumnya ditorehkan di hati orang lain.

Bukankah, untuk bertaubat meminta ampun (maaf) kepada Sang Pencipta pun harus diiringi dengan rasa penyesalan dan bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi dosa-dosa yang lalu?Kalau jadinya malah mengulangi lagi kesalahan, terus meminta maaf lagi, ualngi kesalahan, kinta maaf lagi, dan seterusnya. Ini namanya tobat sambel!

So, marilah mejadi orang yang eksklusif, yang menjadikan maaf sebagai kata santun yang diiringi dengan konsekuensi untuk menjadi lebih baik.

#SelfReminderBanget 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s