Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Bunda Juga Mau Mandiri 

Garut, 27 Februari 2017

Berbicara tentang kemandirian anak, berbicara juga tentang kemandirian orang tuanya, khususnya saya sebagai ibu yang membersamai anak tumbuh di tengah keadaan LDR dengam Ayahnya Raaiq.

Jujur saja, saya adalah individu yang masih harus belajar lebih mandiri. Meski sudah memiliki rumah sendiri, tetapi jika suami pergi kerja untuk beberapa hari ke depan saya lebih memilih untuk menginap di rumah orang tua ataupun mertua yang memang tinggal di satu kota yang sama. 

Kembali saya mencoba menganalisis secara tertulis, apa sih faktor pendukung dan pendorongnya?

Begini kira-kira :

== Faktor Pendorong ==

1. Saya bukanlah individu yang suka dengan keadaan lingkungan yang sepi. Terlahir di keluarga besar yang tinggalnya saling berdekatan, membuat saya cinta akan keramaian. Termasuk ketika saya memilih mengontrak dari pada kos ketika kuliah, alasannya ya karena kalau ngontrak tuh lebih rame, ada ruangan yang biasanya kita tumplek ngobrol disana. Makanya, saya lebih memilih untuk tidur di rumah orang tua kalau suami kerja.

2. Saya bukan juga yang suka bepergian sendiri. Kalau mau beli-beli sesuatu atau bahkan mencari makan ketika kuliah pun, saya lebih memilih untuk mengajak teman yang lain. Rasanya malas kalau pergi seorang diri. Jadi kalau mau belanja bulanan pun saya memilih menunggu suami.

3. Ketika sekolah dulu, sayangnya saya lebih fokus pada kegiatan akademis dan organisasi saja. Sedangkan skill untuk berbagai pekerjaan rumah tangga kurang terlatih. Akhirnya ketika berumah tangga rada keteterean juga dengan skill-skill yang belum terbangun sempurna, utamanya memasak dan perihal dapur lainnya.

== Faktor Pendukung ==

1. Suami yang sangat concern dengan kesehatan dan kenyamanan keluarga. Alhamdulillah semenjak kami menikah, ayahnya Raaiq sudah memiliki mobil. Padahal niatnya, kalau saya hamil baru kami mau bawa mobil. Nah, makanya sudah keenakan nih dianter-anter terus pakai mobil sama suami.

2. Setelah saya melahirkan, kami bersepakat untuk tidak membawa anak memakai motor ataupun angkot sampai usianya 1 tahun, demi kesehatnnya. Makanya sampai sekarang naik angkot pun malas rasanya, karena rempong kalau bawa anak. Kalau sendiri sih oke-oke saja.

3. Posisi rumah yang jauh dari jalan raya, jadi harus berjalan dulu sampai gerbang perumahan.

4. Anak yang sedang aktif banget, jadi kalau diajak belanja bulanan misalnya. Waah, kebayang deh repotnyeeeuu.

5. Belum bisa mobil nih, makanya suami menargetkan agar saya bisa mobil sesegera mungkin. Biarlah rumah berantakan dulu katanya, yang penting bisa dulu mobil. Baeklah, saya mencoba patuh. Hehe.

Maka, ketika kelas bunda sayang memberikan challange 10 hari melatih kemandirian, saya pikir ini, selain melatih kemandirian anak, ini juga momentum saya untuk berproses lebih mandiri lagi. Jadi, saya buatlah list kemandirian yang ingin saya capai. Salah satunya, untuk mencoba beraktivitas menggunakan angkutan umum dengan krucil tercinta dan dengan segala kerempongannya.

Hari ini Raaiq janji berenang bersama wawa dan anaknya di Cipanas. Maka saya hari ini berdua dengan Raaiq memakai motor menuju ke Cipanas. Yeay!

Selanjutnya, saya akan pergi mengantar wawa Raaiq ini ke toko kain. Lumayan jauh dari Cipanas, makanya saya memutuskan untuk naik angkot saja dari pada nanti kehujanan kalau pakai motor. Akhirnya saya menyimpan lah dulu motor ke rumah (yang memang tak jauh dari Cipanas). Sedangkan wawa Raaiq lebih memilih janjian langsung saja di KF* yang tak jauh dari toko, biar makan siang dulu katanya.

Ketika sampai di rumah untuk menyimpan motor, wah saya tergoda untuk tidur saja sebenarnya. Kebayang kan kalau sudah renang itu lelah, apalagi Raaiq sudah terlelap di pangkuan saya sejak di perjalanan menuju rumah. Tapi kan sudah janji mau menemani wawanya, ya sudahlah!

Terbayang sudah perjalanan panjang yang harus saya tempuh dari rumah ke gerbang untuk naik angkot. Beruntung ada becak yang ‘bertengger’ di pinggir pos satpam tak jauh dari rumah, soalnya jarang-jarang sebetulnya ada becak disana.

Akhirnya naik angkotlah saya sesaat setelah turun dari becak. Fiuuhh! lumayan deh ya, bawa anak yang lagi tidur, tambah bawa tas yang isinya lumayan berat, cuaca yang lagi panas-panasnya, terus di angkot duduk di dekat pintu pula.

Tiba di KF*, Raaiq bangun dan mainlah ini anak di playgroundnya. Rasa lelah dari perjalanan tadi sedikit terbayar dengan AC yang ada di restoran cepat saji itu. Apalagi Raaiq sangat bersahabat dan tidak rewel sampai akhir perjalanan wawanya beli kain.

Raaiq malah sangat senang sekali keliatannya, apalagi sebelumnya sempat naik delman.

Pulangnya, kita pun naik angkot lagi dan kita duduk di depan samping sopir. Wiih raaiq seneng tuh bisa sambil lihat-lihat sekitarnya.

Meski pas turun dari angkot kita harus jalan kaki sampai ke rumah. But we are happy today!

Yes, I Can!

#GameLevel2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s