Life Experience · ODOPfor99days2017

Metamorfosa Me Time 

Rasanya sudah hampir menjadi kesepakatan di kalangan para ibu dengan segenap kerepotan yang dilaluinya, bahwa me time adalah waktu berharga bak semedi para pendekar untuk meningkatkan kesaktian atau bahkan hanya sekedar menyegarkan badan dan pikiran.

Pun bagiku, me time adalah waktu untuk menikmati kesendirian, merasakan eksklusivitas diri sendiri untuk menikmati waktu di antara waktuku sebagai istri, ibu, maupun ketika berperan di ranah publik. 

Mencari dan memilih me time yang tepat merupakan tantangan sendiri bagiku. Sering kali me time aku selipkan di tengah kewajiban yang menumpuk. Alhasil, me time dijadikan sebagai pelarian dan hanya menumpuk kewajiban yang akan menimbulkan stres di jam berikutnya. Tak jarang, setelah me time, aku malah menjalani rutinitas dengan mood yang jelek, emosi negatif, dan penyesalan di akhir karena merasa anak dan suami tak diberi perhatian yang prima.

Apa sih yang aku lakukan ketika me time? Bagiku menikmati setiap guyuran air dari kepala sampai kaki di kamar mandi adalah salah satu cara me time yang selalu dinikmati. Selain bisa menikmati berbagai perenungan yang sejatinya sering datang dari arah yang tak disangka-sangka, tak ada yang memungkiri kalau mandi menambah kesegaran badan, sehingga energi pun rasanya bertambah.

Aku merasakan me time ini terasa sangat berharga ketika sudah memiliki anak. Kalau masih berdua dengan suami sih rasanya sepanjang hari juga me time ya, kebersamaannya belum terlalu banyak distrakasi dari sana-sini. Kalaupun ada rutinitas sebagi seorang istri, waktu untuk menikmati kesendirian masih banyak celahnya. Beda ketika si kecil sudah lahir, dunia seakan menjadi jungkir balik dan butuh proses belajar setiap harinya.

Dan bagiku untuk me time pun ada metamorfosanya. Berubah-ubah seiring dengan perkembangan diri dan si kecil.

Fase newborn

Jungkir baliknya dunia, sebetulnya sangat terasa di fase ini. Aku mulai adaptasi dengan peran baruku sebagai ibu yang harus teratur menyusui setiap 2 jam sekali. Kebiasaan yang mulai diterapkan siang malam agar anakku tidak kekurangan cairan dan juga menghindari ‘kuning’ yang umumnya banyak dialami bayi masa kini.

Aku yang tidak mahir begadang ini, harus berkutat dengan rasa kantuk yang sangat karena malam hari menyusui si kecil dan mengganti popoknya beberapa kali. Kadang pula harus menenangkan si kecil ketika dia berkomunikasi lewat tangisannya, entah si kecil bosan atau hanya ingin ditimang.

Maka me time bagiku pada fase ini adalah tidur. Rasanya, selain senyuman si kecil yang selalu membuat hati ini berbunga, tidur adalah hal kedua yang sangat ingin aku dapatkan. Beruntung, aku memiliki mertua yang sangat pengertian. Sering kali, aku diberi kesemptan untuk tidur beberapa menit lamanya di pagi hari setelah semalaman aku begadang. Sementara si kecil, jika ia terbangun, mertuaku yang membantu menggendongnya sementara waktu sampai si kecil menginginkan ASI.

Fase 6 bulan pertama

Pada fase ini selain tidur, me time bagiku adalah jalan-jalan. Selama 3 bulan pertama, hampir jarang aku keluar rumah, masih fokus untuk membangun ketahanan tubuh si kecil yang masih rentan. Maka ketika si kecil sudah mulai bisa diajak pergi jauh, berbagai kesempatan untuk berlibur atau bahkan hanya menemani suami pelatihan di kota besar tak dilewatkan begitu saja. Dan 6 bulan pertama ini sangat mengasyikkan kalau bepergian, pasalnya aku tak perlu repot-repot menyiapakan makanan, karena semua yang dibutuhkan si kecil tersedia di badanku sendiri, yaitu ASI.

Fase menuju 1 tahun 

Tak terasa si kecil mulai bertumbuh dan berkembang, ilmu parenting pun sudah menjadi suatu keharusan untuk terus di up grade. Beberapa daftar buku parenting pun dibuat agar tak lupa jika akan membeli. Maka me time pada fase ini bagiku adalah membaca. Membaca apapun yang ingin aku ketahui, baik itu dari buku, majalah cetak, media online, ataupun dari berbagai media sosial. Bahkan dari media sosial juga akhirnya aku bisa terdorong untuk bisa menulis.

Menulis apa? Menulis apapun, karena diri ini sadar jam terbang bacanya tak secanggih para penulis bintang lima. Bahkan di fase ini pun aku belajar menulis copywriting untuk toko online (olshop) yang sempat aku tekuni. Beruntung pula aku bertemu dengan komunitas para ibu yang berkomitmen menulis selama 99 hari yaitu #ODOPfor99days di awal tahun 2016. Meski pada akhirnya aku tak kuat untuk menulis 99 tulisan, tapi alhamdulillah semangat menulisnya tak kandas habis. Masih berlanjut di tahun 2017 ini. 

Fase 1 tahun sampai sekarang yang hampir 2 tahun 

Membaca dan menulis pada fase ini agaknya sudah hampir menetap untuk jadi me time. Apalagi aku mulai tertarik dengan dunia blogging dengan segenap pernak-perniknya yang mulai aku pelajari. Pun semangat mencari ilmu yang semakin meyadarkan aku bahwa ilmu itu banyak dan berserakan, tinggal kitanya saja yang harus teliti mana dulu yang mau ‘dipungut’. Karena dengan begitu banyak informasi yang ada, sering kali aku pun bingung dibuatnya. Beberapa grup whatsapp aku ikuti (terutama grup parenting dan kepenulisan yang sudah jadi prioritasku), tapi ternyata oh ternyata me time-ku malah sering bergeser menjadi berselancar di grup ataupun media sosial lainnya. Me time-ku menjadi bias karena ketika membaca maupun menulis sering terdistraksi notifikasi di beberapa media sosial. Lalu aktivitas membaca dan menulis pun kehabisan energi karena lelah dengan berbagai atensi yang dituai disana-sini.

Maka inilah poin penting untuk medapatkan me time yang berkualitas, yaitu pengaturan waktu (time management) yang berkualitas. Membuat kuadran kegiatan antara penting-tidak penting dan mendesak-tidak mendesak. Alhamdulillah, cara ini ampuh bagiku, meski hanya sekedar sadar bahwa lebih dari 5 menit wara-wiri di media sosial itu kegiatan yang masuk kuadran tidak penting juga tidak mendesak.

Break the rules!

Pengaturan waktu sudah dibuat, berati tinggal dipatuhi dan disiplin. Tetapi adakalanya bagiku spontanitas adalah hal yang sangat menyenangkan. Maka, sesekali jika aturan waktu yang telah dibuat aku langgar, itu pun menjadi me time tersendiri. Tak apa rumah berantakan, masakan hanya beli di warung nasi tetangga, aku hanya ingin berbaring dan menonton film yang aku suka, aku hanya ingin diam meski sejenak. Karena aku hanya ingin me time menikmati keadaan diri di tempat ini pada waktu kini. Itu saja.

Enjoy Me Time, Mom!

Advertisements

10 thoughts on “Metamorfosa Me Time 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s