Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Menemukan Gaya Belajar Anak : Mix to Fix 

Apa gaya belajar saya? 

Tentu saya akan menjawabnya dengan lantang kalau gaya belajar saya audio-visual, makanya saya cenderung tidak terganggu dengan suara bising kalau sedang belajar karena masih terbantu dengan gaya belajar visual saya. Kalau orang yang cenderung punya gaya belajar audio mungkin akan lebih terganggu dengan suara bising. 

Kalau gaya belajar suami? 

Kalau suami bisa dikatakan gaya belajarnya visual-kinestetik. Dari cerita perjalanan kuliahnya, suami bukan tipikal orang yang suka dengan gaya kuliah ceramah, suami lebih senang dengan gaya belajar otodidak. Baca, cari, dan pelajari sendiri adalah cara nyamannya untuk belajar. Selain itu hobinya yang otak-atik komputer dan merakitnya sendiri menguatkan bukti kalau visual-kinestetik adalah cara belajarnya.

Kalau belajar anak kami? 

Sejujurnya saya masih terus mengobservasi mana gaya belajar anak kami, Raaiq. Apakah audio, visual, kinestetik, atau kombinasi diantara ketiga gaya belajar tersebut?

Sejauh pengamatan saya, di usianya yang belum genap 2 tahun (21 bulan), Raaiq masih mengembangkan gaya belajarnya yang bisa distimulasi melalui 7 modalitas belajarnya. Yaitu, mata (visual), telinga (auditory), hidung (olfactory), lidah (gustatory), kulit (tactile), otot dan persendian (proprioceptive), dan keseimbangan (vestibular). Tentu inilah tugas kami sebagai orang tua untuk menstimulasi kinerja 7 modalitasnya sehingga sesegera mungkin kami menemukan kecenderungan gaya belajarnya.

Beruntung, saya dipertemukan dengan sebuah buku dari Rumah Dandelion bagaimana menstimulasi ke-7 modalitas tadi, sehingga saya merancang kegiatan 2 minggu sekarang melalui kegiatan-kegiatan yang berhubungam dengan modalitasnya. Bukunya berjudul, ‘Keajaiban 7 Indra’

Tetapi dari perjalanan observasi yang saya lakukan terhadap Raaiq, gaya belajar yang dikembangkan Raaiq masih kombinasi. Dari bayi Raaiq sangat senang dengan kegiatan yang berhubungan dengan gerak, bisa dikatakan anak ini memang sangat aktif bergerak (kinestetik), karena indera vestibular dan proprioceptive-nya alhamdulillah berkembang dengan sangat baik.

Dari dulu saya selalu mendendangkan lagu untuk Raaiq tentu dengan ekspresif. Sekarang beberapa lagu sudah bisa dihafalnya, yaitu topi saya bundar, burung kakak tua, naik kereta api, finger family, lagu ABCD dan lagu permainan asal orang Sunda, seperti ‘endog-endogan’. Setiap kata (meski ada beberapa kata yang dilewat), tapi Raaiq tahu susunan kata mana dulu yang harus dinyanyikan. Ini berhubungan dengan perkembangan bahasanya yang melesat melalui modalitas pendemgarannya (auditory).

Sedangkan gaya belajar visual terbukti dari pemahaman Raaiq akan angkot. Saya mengenalkan beberapa alat transportasi, termasuk angkot. Saya pikir Raaiq akan kesulitan membedakan angkot dengan mobil lainnya, karena ketika menjelaskan kepada Raaiq, saya tidak banyak menuturkan ciri yang banyak tentang angkot, malah terkesan penjelasan saya abstrak bagi anak seusia Raaiq.

Saya hanya menjelaskan kalau angkot itu digunakan untuk orang yang tidak punya mobil sendiri. Tapi nyatanya Raaiq bisa menunjukkan dengan benar mana angkot dan bukan. Ternyata Raaiq dapat membedakan itu dari bentuk angkotnya, karena ketika dia melihat mobil carry, dia katakan bahwa itu adalah angkot. Sehingga, untuk membedakan angkot dengan mobil lainnya cenderung lebih mudah bagi Raaiq.

Meski masih kombinasi cara belajarnya, in syaa Allah saya dan suami terus berikhtiar untuk menemukan mana gaya belajar Raaiq yang dominan. Mix to fix!

#Hari1

#Level4

#KuliahBunsayIIP

#GayaBelajarAnak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s