Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Aliran Rasa : Gaya Belajar Anak 

If a chlid can’t learn the way we teach, maybe we should teach the way they learn.

-Ignacio Estrada-

Tak aneh lagi kalau tantangan di Bunda Sayang IIP memang selalu membuat saya semakin aware terhadap perkembangan anak setiap harinya, bahkan dari setiap detiknya. 

Watch, engage, listen menjadi formula andalan dalam mengobservasi anak ketika membersamainya. Setiap tingkah polahnya, celotehannya, rengekannya, tangisannya, bahkan sentuhannya menjadi ‘data’ setiap harinya sebagai bahan observasi saya setiap harinya.

Dalam mengobservasi gaya belajar kali ini, rasanya saya agak kebingungan memang di awalnya. Beberapa sceptical question saya ajukan kepada diri saya sendiri. Mengajak berdiskusi dengan saya yang masih mempertanyakan apakah gerangan gaya belajar Sang Buah Hati, Raaiq.

Apakah benar Raaiq memiliki kecenderungan salah satu gaya belajar atau malah perpaduan di antara ketiganya?

Data yang saya kumpulkan memang kadang kala menunjukkan gaya belajar yang berbeda-beda setiap harinya. Kadang kala yang ditunjukkan gaya belajar visual, kadang audio, atau kinestetik.

Saya makin bingung, belum berani mengambil kesimpulan. Saya buka lagi materi-materi mengenai gaya belajar di kelas Bunda Sayang. Saya bolak balik baca materinya. Terbuka sedikit demi sedikit pertanyaan saya. 

Bahwa memang tidak harus semua anak memiliki kecenderungan terhadap salah satu gaya belajar. Bisa jadi anak memiliki perpaduan ketiga gaya belajar tersebut. Tergantung juga pada situasi yag dihadapi anak. Nah, tugas kami lah sebagai orang tua untuk memberi stimulasi dari ketiga gaya belajar. 

Oke saya pun bisa mulai sedikit menyimpulkan, kalau Raaiq memang memiliki perpaduan ketiga gaya belajar itu sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami. 

Maksudnya?

Begini, gaya belajar kinestetik muncul ketika dihadapkan dengan alam/lingkungan luar dan mainan/benda yang baru. 

Di luar rumah, Raaiq bisa dibilang tidak suka dengan stagnansi, misalnya duduk berlama-lama atau digendong oleh orang tuanya. Kalau kita pergi jauh, anak ini pasti menolak masuk mobil, meronta-ronta, karena ruang geraknya terbatas. Raaiq juga cenderung lebih suka ekplorasi sendiri benda/mainan baru, kalau dicontohkan atau diperlihatkan malah cenderung tidak terlalu suka. 

Nah, ketika dia mendapatkan kesulitan ketika mengeksplorasi, biasanya Raaiq mengembangkan gaya belajar visual dengan bertanya ‘bagaimana?’. Artinya Raaiq minta untuk dicontohkan bagaimana suatu benda berfungsi. 

Sedangkan gaya belajar audio, ini terbukti dari cara menangkap suara dan bunyi lewat hapalan Quran dan lagu-lagu. He is very awsome! *kata emaknya mah..hehe

Begitulah kesimpulan saya sementara waktu, masih banyak PR yang harus saya kerjakan terkait observasi ketiga gaya belajar Raaiq ini. Tapi betul poin pentingnya adalah harus sebaik mungkin untuk menstimulasi modalitas gaya belajarnya melalui ke-7 panca inderanya, sehingga kita punya data akurat dalam membimbing anak sesuai gaya belajarnya. 

Kalau kata bu Septi mah :

Yang penting anak pernah merasakan semua gaya belajar. Secara fitrah dirinya akan belajar mengikuti “suara hati kecil” akan menggunakan gaya yang mana, atau mengkombinasikan banyak gaya bergantung badai yg dihadapi .Ikuti suara hati kecil itu biarkan dia yang bersujud membisikkan ke seluruh bumi dan diamini oleh seluruh penghuni langit. (Septi Peni Wulandani)

=====

#Aliran Rasa 

#Level4

#KelasBunsayIIP

#GayaBelajarAnak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s