ODOPfor99days2017 · Resume/Review

Resume Kulwap : Tazkiyatun Nafs

9 Ramadhan 1438 H 

Istilah tazkiyatun nafs memang tidak terlalu asing bagi saya yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Bahkan buku tazkiyatun nafs karangan Imam Al-Ghazali sudah lama duduk manis di deretan buku milik ibu saya. Tapi sayangnya, meski saya sudah tertarik dengan istilahnya, tapi sayangnya saya hanya membacanya sekilas-sekilas saja. 

Saya tertarik kembali pada konsep tazkiyatun nafs, khususnya dalam parenting, ketika saya baca salah satu tulisan Ust. Adriano Rusfi tentang tazkiyatun nafs. Setelah jadi ibu muda, hal-hal yang berkaitan dengan parenting memang selalu menjadi daya tarik tersendiri, apalagi ust. Aad (biasa beliau disapa), menghubungkan tazkiyatun nafs ini dengan praktek parenting. 

Alhamdulillah, jodohnya juga saya ikut kulwap yang pematerinya ust. Aad dengan materi tazkiyatun nafs ini. Bulan Ramadhan ini banyak link grup WA yang menawarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, salah satunya Grup IIP Banyumas Raya yang mengadakan kulwap ini. 

Terima kasih ya IIP Banyumas Raya.

Nah, berikut ini saya share juga resume hasil tanya jawab dengan Ust. Aad plus dengan materinya :).

โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„
Tazkiyatun Nafs

Pemateri : Ust. Adriano Rusfi

Kamis, 1 Juni 2017

Demi kesempurnaan jiwa manusia, maka Allah telah ilhamkan kepada manusia jalan dosa dan jalan taqwa. Andai salah satu dari kedua jalan itu tiada atau diamputasi, maka kesempurnaan jiwa manusia akan hilang.

Kenapa manusia butuh jalan dosa (fujur) ? Karena jalan itulah yang akan membuat manusia sadar diri, tahu diri, rajin beristighfar dan membersihkan dirinya. Beristighfar akan membuat turunnya rahmat Allah, dan Allah tambahkan kekuatan kita.

Kebutuhan manusia akan jalan dosa adalah agar manusia memiliki dorongan untuk “nakal”, menembus batas, bengal dan melakukan kesalahan. Ketika dorongan ini dipadukan dengan jalan taqwa, maka akan melahirkan kombinasi kreativitas yang luar biasa.
Kombinasi antara dosa-taqwa itulah yang membuat salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa adalah “melakukan perbuatan keji dan menganiaya diri sendiri, lalu bertaubat” (3 : 135)
Oleh karenanya, yang dibutuhkan adalah upaya penyucian jiwa : tazkiyatun nafs, agar kombinasi kedua jalan ini akan berakhir di pintu surga.

Tanya Jawab
1. Tazkiyatun Naffs
๐Ÿ”น Putri-Purwokerto

Saya baru mendengar istilah tazkiyatun nafs (duh minim sekali ilmunya ๐Ÿ˜…) ustadz mohon  dijelaskan pengertian dan tata caranya bagaimana?

๐Ÿ”น Rofiqoh dari Ajibarang

Bagaimana cara seorang manusia untuk memulai tazkiyatun nafs? Sedangkan ia punya masa lalu yang kurang baik/ kelam? step-stepnya seperti apa?

๐Ÿ”น Supri-Sidabowa

Jika seseorang sering berintrospeksi diri, beribadah, berusaha berbuat baik, beramal sholeh nkamun msh ada kegalauan di hati. Bagaimana solusinya ?

๐Ÿ”น Eka-Purwokerto

klo Rukiyah itu termasuk salah satu sarana Tazkiyatun Nafs bukan Pak Ustad?   

๐Ÿ”น Lily Purwokerto

Bagaimana menimbulkan bashiroh sehingga kita bisa dengan sigap mengetahui kesalahan dalam mendidik anak?

Jawaban:
Tazkiyatun nafs artinya pembersihan jiwa. Kita bisa membacanya pada surah Asy-Syams ayat 7-10:

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Dia telah mengilhamkan kepada jiwa tersebut jalan dosa dan jalan taqwa. Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwa tersebut dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya”


Tazkiyatun nafsi itu dimulai dari jiwa yang memurnikan ketauhidannya hanya kepada Allah semata.
Karena hanya jiwa yang tidak menyekutukan pengabdiannya kepada Allah sajalah yang akan dibersihkan oleh Allah.

Jadi mulailah dari aqidah yang bertauhid, aqidah yang bersih dari mensekutukan Allah. Itulah sebabnya kenapa surah tentang keesaan Allah disebut dengan surah Al-Ikhlas.

Walaupun seseorang itu rajin beribadah, sering introspeksi diri, banyak beramal shaleh, namun tidak mensucikan Allah (tasbih), maka jiwanya akan tetap gelisah.

Kenapa ada orang yang rajin beribadah namun tetap galau ? Karena dia tak mengenal Allah dengan pengenalan yang benar, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Masa lalu yang kelam sama-sekali tak menghalangi seseorang dari tazkiyatun nafs. Kita butuh tazkiyatun nafs justru karena kita punya kekelaman dan kekotoran. Sehingga proses tazkiyatun nafsi itu tak akan pernah berhenti, karena kita akan selalu kembali kotor/kelam. 

Mulailah tazkiyatun nafs dari baik sangka kepada Allah, optimisme, syukur dan tak pernah putus asa dari rahmat Allah. Lakukanlah segala kebaikan yang mungkin kita lalukan, karena kebaikan itu akan menghapuskan keburukan (hadits). Jangan terlalu terpaku pada sisi negatif masa lalu, tapi pada kebaikan masa depan.

Bagi saya, ruqyah bukanlah bagian dari tazkiyatun nafs, walaupun konon bertujuan untuk mengeluarkan jin dari dalam jiwa. Karena, jika jiwa kita tetap kotor, toh jin tersebut akan mudah masuk kembali ke dalam jiwa kita.

Salah satu cara untuk menumbuhkan bashirah adalah dengan banyak melakukan ibadah sunnah, dan sering bertanya pada hati, bukan pada otak
. Hati yang bersih akan cepat menangkap sesuatu yang keliru โœ…

2. Inner Child
๐Ÿ”น Dea – Baturraden

Bgmn langkah agr qt bs brdamai dg masa lalu? Krn trkdg didikan keras ortu mmg tnpa sadar dlakukan jg oleh ssorg pd anak2nya..

๐Ÿ”น Putri- Purwokerto

Apakah bisa membantu masalah psikis ortu yang mempunyai “masalah” dg masa lalunya, untuk kasus ortu yang tidak bisa menerima kondisinya sendiri? Misal: dulu dia kaya, sekarang hidup pas2an. Karena tidak menerima kondisi saat ini, bersikap dan bergaya hidup hedon yg memaksakan sehingga memberatkan pasangannya, dan sepertinya ybs tidak menyadari hal itu justru semakin menuntut untuk mencukupi keinginannya.

๐Ÿ”น Sulistya Rini- berkoh purwokerto

Suami saya tumbuh dikeluarga yang “keras” seringnya konflik bapak-ibu(mertua saya). Dan suami saya sepertinya menjadi keras hati, suka membentak anak, dan perkataan kasar sering keluar ketika marah dgn anak. Tidak sabaran dan juga tertutup. Sebagai istri saya sudah berusaha membantunya seperti bersikap sabar atas segala amarahnya, mengajak ngobrol dan mengingatkan dari hati ke hati. Tp selama 10 tahun pernikahan kami seolah tidak ada yg berubah dari dia. Meski kami tinggal jauh dari orangtua sepertinya energi negatif dari mertua selalu mengikuti suami. Apa yang harus kami lakukan?Terima kasih.

๐Ÿ”น Nn, Purwokerto

Assalamualaikum Ustadz, suami saya kadangkala keras memarahi jika anak pertama kami memukul atau menggigit adiknya, tanpa ditelusuri dulu kenapa si kakak berbuat seperti itu. Respon negatif dari suami ini seringkali muncul seperti di luar kendali. Kami pun akhirnya mencoba menelusuri. Hingga bisa menemukan inner child suami saya, sejak kecil sering dipukuli kakaknya hingga SMA. Oleh karena itu, ketika anak pertama kami berbuat tidak baik kepada adiknya, emosinya muncul. Dia langsung memarahi, karena dia tidak mau peristiwa yang dialaminya dulu terulang lagi. Penemuan inner child ini alhamdulillah cukup melegakan, namun bagaimana selanjutnya. Bagaiman proses cleansing-nya?Terima kasih.

๐Ÿ”น Ririn-Ambon

Bagaimana mengembalikan fitrah anak yang dlm kondisi bersama orang tua yang tidak bisa mengendalikan inner Child nya yang kurang bagus

๐Ÿ”น Luthfita, Purwokerto

Bagaimana cara (metode) berdamai dengan innerchild dengan tazkiyatun nafs? Ketika sudah berdamai apakah ada kemungkinan “kambuh” lagi di kemudian hari? Misalnya karena mendapat perlakuan negatif yang sama dari pelaku yang sama di masa lalu?

๐Ÿ”น Nuning – Bogor

Bagaimana menghilangkan kecemasan atau trauma dari masa lalu..pada diri kita dan anak2?

๐Ÿ”น Rofikoh-Ajibarang

Apakah anak yg nakal, rewel, atau tidak mematuhi orang tuanya ada hubungannya dengan tazkiyatun nafs kedua orang tuanya?Terimakasih.

Jawaban :
Masa lalu, baik positif maupun negatif, adalah warisan terbaik yang Allah berikan pada kita. Kata kuncinya adalah : bagaimana kita memaknai dan mengambil hikmah dari masa lalu.

Orang yang di masa lalu pernah dididik sangat keras oleh orangtuanya, boleh jadi memang Allah siapkan untuk menghadapi kerasnya kehidupan, atau juga agar mendidik anak-anaknya dengan sedikit keras. Bukankah kebanyakan manusia sukses adalah buah didikan “keras” dari orangtuanya ? Yang penting : ambil yang berguna dan buang yang buruk.

Bagi mereka yang dulunya kaya dan sekarang pas-pasan, seharusnya mereka bersyukur. Karena mereka akan membesarkan anaknya dengan perjuangan dan penderitaan, tapi tetap dengan harga diri seorang kaya.
Betapa banyaknya orangtua yang bingung mendidik anaknya dengan perjuangan dan penderitaan, karena saat ini dia “terlanjur” kaya. Padahal dia sadar bahwa manusia sukses adalah manusia yang dididik dengan perjuangan dan penderitaan.

Saya sendiri justru adalah orang yang sengaja “memiskinkan” diri saat menikah, padalah masa bujangan saya sangat berkecukupan. Itu karena saya sadar bahwa saya dan anak-anak saya harus berjuang untuk menggapai sukses.
Untuk suami yang sering membentak anak, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan :

Pertama
, menyadarkan suami dengan pengalaman masa lalu betapa sakitnya dikasari dan dibentak oleh orangtua, sehingga berjuang untuk mengakhiri “pusaran kekerasan” itu. Mungkin bisa minta bantuan orang lain untuk menyadarkan suami.


Kedua
, bunda harus lebih berperan untuk mengobati luka psikis anak akibat bentakan ayahnya. Jika suami sangat keras, maka imbangilah dengan kelembutan yang tinggi. Ingatkan juga pada anak untuk tetap berbaik sangka terhadap sikap keras ayahnya. Dan sadarkan juga pada anak agar “tidak mengulangi sikap keras ayahnya kelak kepada anaknya”
Nah, beberapa kasus perlakuan tidak tepat ayah terhadap anaknya ini juga disebabkan oleh minimnya ilmu parenting seorang ayah. 

Makanya, doronglah mereka untuk ikut sesi-sesi parenting. Kalau perlu mendirikan Majelis Luqmanul Hakim untuk para ayah.

Tentang inner child para orangtua, sekali lagi mari kita nggak terlalu mempermasalahkan dan menyalahkan masa lalu, yang penting adalah mensikapi masa lalu dengan cara yang lebih positif.

Sedangkan anak yang hidup dengan orangtua inner child-nya kurang bagus, maka percayalah bahwa Allah-pun juga mempersiapkan mental sang anak untuk menghadapi dan mengatasinya.
Jangan lupa, sering-seringlah berdoa pada Allah agar Dia menghapus, mengkoreksi dan memperbaiki masa lalu yang negatif. Dan “tutupilah keburukan dengan kebaikan. Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya” (hadits)
Anak yang nakal, rewel atau tak patuh memang boleh jadi ada kaitannya dengan kebersihan jiwa kedua orangtuanya. Apalagi jika hampir semua anak berkelakuan sama. Sebagaimana kata Imam Syafi’i :

“Saat aku tak taat pada Allah, jangankan anak-anak dan istriku, bahkan anjingkupun tak taat padaku” โœ…

3. TN dengan Parenting
๐Ÿ”น Putri- Purwokerto

Apakah tazkiyatun nafs diperlukan semua ortu sehingga bisa membantu membangun pondasi yng kuat dalam mendidik anak2, atau hanya untuk yang mempunyai masalah saja?  

๐Ÿ”น Lily -Purwokerto

Sebenarnya modal terbaik dalam parenting apa,ustadz? Sehingga sebagai orangtua kita tetap percaya diri dengan metode pendidikan yang kita terapkan pada anak-anak kita. Karena saat ini hal benar dianggap salah dan sebaliknya ๐Ÿ˜ขSebenarnya modal terbaik dalam parenting apa,ustadz? Sehingga sebagai orangtua kita tetap percaya diri dengan metode pendidikan yang kita terapkan pada anak-anak kita. Karena saat ini hal benar dianggap salah dan sebaliknya.

Jawaban:

Tazkiyatun Nafs adalah kebutuhan kita semua, karena setiap kita jiwanya pasti akan kotor kembali walaupun telah berkali-kali dibersihkan. 

Lagipula, Allah mencintai hambaNya yang membersihkan dirinya, dan tak menyukai hambaNya yang bersih (Hadits Qudsi)
Modal terbaik dalam parenting adalah fitrah keayahbundaan yang telah Allah ilhamkan ke dalam jiwa kita. Masa lalu kita juga modal parenting yang baik. Cara-cara kedua orangtua kita dalam mendidik kita juga modal parenting yang baik. Watak dan kepribadian kita juga modal parenting yang baik.

Jadi, salah satu prinsip dari parenting agar modal kita kaya adalah : berdamailah dengan diri, masa lalu, pola asuh orangtua dulu dan dengan anak-anak kita. Syukurilah semuanya sebagai takdir dan hadiah dari Allah. Lalu manfaatkanlah segala aset itu secara bijak untuk mendidik anak-anak kita. jangan lupa untuk senantiasa meminta bimbingan Allah โœ…

4. Mengendalikan Emosi
๐Ÿ”น Ulfahzulaikha-Sukoharjo

Bagaimana ya ustadz agar tidak mudah emosi  dan bentak anak?

๐Ÿ”น Elsa- jambi

Bagaimana cara mengendalikan emosi yang datang tiba2?

Soalnya,,sekarang ini,,jika saya sudah meledak marahnya,,anak 1 yg umur 3y9m sudah berani memukul saya dengan geramnya?

Jawaban:
Kesibukan seorang ibu yang tidak ada habis-habisnya, rutinitas dalam mendidik anak dan mengasuh rumah tangga yang membosankan serta kenakalan-kenakalan anak yang membuat naik pitam, itu memang mudah membuat seorang ibu kehilangan kesabaran, membuat emosinya mudah meledak, lalu marah-marah.

Oleh karena itu, dalam pendidikan anak seorang ibu harus didampingi oleh seorang ayah. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh ibu dalam berhadapan dengan anaknya, sebaiknya dikonsultasikan dan dilaporkan kepada ayah. Biarlah Ayah yang mengatasi permasalahan tersebut.

Bagaimanapun, seorang ayah yang tidak setiap saat berurusan dengan permasalahan anak lebih mampu mengendalikan emosinya, lebih jernih dalam melihat permasalahan, dan lebih bijak dalam mengatasi masalah masalah anaknya.
Itulah sebabnya kenapa dalam pendidikan anak peran ayah begitu penting, termasuk untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mudah meledakkan emosi

5. Perbedaan Pola Asuh Suami Istri
Dewi – Purwokerto

Jika ada orang tua yg pola asuh keduanya(antara suami dan istri) bersebrangan dimana istri agamis sedangkan suami cenderung hedonis dan memanjakan dengan materi bagaimana solusinya.

Lily – Purwokerto

Ustadz,jika di luar Negri sudah jadi pemandangan yang jamak,ayah-ayah mendorong stroller bayi pergi belanja ke supermarket tanpa didampingi istrinya,tapi disini pemandangan yang terjadi sebaliknya,seolah hanya ibu yang pontang panting mengurus anak. Kalaupun ada,maka orang akan menatap heran (pengalaman pribadi,hehee). Ini bagaimana menurut ustadz? Bukankah peran ayah justru jadi motor utama dalam sistem pendidikan anak? Atau sebenarnya bagaimana Islam menaruh perhatian akan hal ini?

Jawaban:
Rumah itu bagaikan sebuah sekolah. Maka dalam sebuah rumah harus ada Kepala Sekolahnya dan harus ada gurunya 
Kepala Sekolahnya adalah ayah, sedangkan gurunya adalah Bunda. Ayah lah yang menetapkan Visi, misi dan strategi pendidikan, sedangkan Bunda adalah pelaksana harian yang secara teknis lebih paham bagaimana mendidik anaknya.

Oleh karena itu, supaya tidak terjadi benturan arah, teknik dan metodologi pendidikan anak, Ayah harus memainkan peran sebagai penanggung jawab pendidikan. Tentunya dalam hal ini ibu juga harus banyak memberikan masukan-masukan. Apalagi jika secara nilai ibunya yang lebih Islami sementara ayahnya lebih hedonis. Sehingga dalam hal ini ayah menetapkan kebijakan tapi nilai-nilainya harus mendapatkan masukan dari ibu. 

Kemudian yang kedua, sebenarnya dalam ajaran islam peran ayah dalam mendidik anak itu lebih utama dan lebih dominan. Kalau kita datang ke negeri-negeri muslim di Timur Tengah, kita justru akan melihat di mall-mall itu yang membawa troli itu adalah ayah. Di pasar pasar yang akan kita lihat kebanyakan adalah laki-laki bukan perempuan. Karena pada dasarnya tanggung jawab non domestik ada di tanam para ayah.

Namun demikian dalam budaya patriarki seperti di Indonesia, hal ini memang dipandang janggal. Oleh karena itu mari kita dorong para ayah untuk lebih banyak belajar tentang prinsip-prinsip pendidikan anak agar mereka sadar bahwa peran mereka begitu penting dalam pendidikan anak.

Ayah juga perlu lebih didorong untuk memahami ajaran ajaran Islam dalam berumah tangga. Kalau mereka belajar tentang ajaran Islam di rumah tangga, mungkin mereka akan terkejut bahwa di zaman Rasulullah dan para sahabat ra itu yang memasak, mencuci dan sebagainya justru diperankan oleh seorang ayah.

6. Ragam Pengasuhan
๐Ÿ”น Dewi-Purwokerto

Bila kita melihat di depan mata ada seorang anak sedang d marahi orang tuanya sampe dipukuli bagaima kita harus bersikap agar si anak tak merasa d bela lalu jadi tidak sopan pada orang tuanya dan orang tuanya juga tidak merasa tersinggung atau dipermalukan.

๐Ÿ”น Tika, purwokerto

apakah mendekatkan (boleh memegang, membuka) anak dengan Al Quran diusia batita bsa mnjadi salah satu upaya utk menjadikan pondasi dalam mendidik anak?

karena saat ini anak saya 3th sudah hapal beberapa surah walau tidak sempurna, namun karena akal yg msh belum sempurna ia belum bisa memperlakukan Al Quran yang khusus saya berikan untuknya sebagaimana mestinya, misal kadang terinjak, bagaimanay sobek dsb meskipun sudah saya sounding bagaimana memperlakukan Al Quran.

Apabila dilarang ia pasti akan merengek mencari dmna Al Quran miliknya, tp jika diperbolehkan saya kadang takut dosa ustad krn perlakuannnya thd Al Quran tsb, secara niat saya ingin ia butuh terhadap Al Quran. mohon pencerahan..๐Ÿ™๐Ÿผ

๐Ÿ”น Nisa pekalongan

Bagaimana ya membuat anak konsentrasi.. misal hari ini dia ada project bikin kue kering dia sendiri yang minta..nah,waktu hari H nya dia berhenti ditengah jalan..ada saja alasan nya,kadang mengalihkan perhatian.. ahirnya ga selesai project nya.. bagaimana mensiasatinya ya?

๐Ÿ”น Ririn-Ambon

Kekhawatiran saat anak tidak menjalankan kesepakatan yang telah di buat bersama. Khawatir mereka tidak mau menurut sama saya dan mereka berbuat sesuai kehendak mereka saja pdhl mereka msh anak-anak yang belum bisa cenderung berfikir dl dlm bertindak tp lebih mengedepankan tuk kesenangan aja. Bagaimana mengatasi kejadian seperti ini? 

๐Ÿ”น Desy Dari Batam

Anak saya usia 23bln. Tp komunikasi sudah lancar. Sudah paham larangan. Dlu wkt usia dibawah 23bln. Setiap dilarang selalu nurut. Tp smakin besar koq semakin (seolah2) tdk mendengar. Jika minta sesuatu sudah bisa merengek dan ngamuk jk tdk dituruti. Saya diamkan saja. Tak menuruti permintaannya. Tp dlm hati kesal wlo sudah dijelaskan dg lembut tetap menangis. Bahkan skrg sudah bs meledek. Tidak boleh injak buku. Klo injak buku saya hukum masuk kamar sendiri dan sy dluar. Atau sy berdirikan diujung dinding sambil menghadap dinding. Ini dy menangis jerit2. Tp ttp sy laksanakan hukuman. Kemudian besoknya dy seolah2 menguji “sengaja menginjak buku” atau sengaja tdk mendengar perintah seperti pakai sepatu,Apakah tepat saya menghukum anak saya berdiri menghadap tembok atau masuk kamar sendirian dlm usianya sperti itu. Bagaimana membuat dia mendengar dan patuh atas larangan yg diberikan ? Terimakasi ustdz

Jawaban:
Untuk bunda Dewi di Purwokerto, jika kita menyaksikan ada orang tua yang memperlakukan anaknya secara tidak patut, sebaiknya kita tidak melakukan intervensi secara langsung. Namun demikian, kita bisa mengajak ngobrol kepada orang tuanya dalam situasi santai, dalam waktu yang nyaman di tempat tertentu.

Kecuali jika perlakuan orang tua terhadap anaknya itu sifatnya telah masuk kategori kriminal, misalnya menyiksa, memukul dengan kasar  apalagi anaknya masih sangat belia. Maka pada saat itu kita memang berhak untuk mencegahnya, bahkan melaporkannya ke pihak yang berwajib.

Namun jika tindakan tak pantas orang tua tersebut tidak sampai pada menciderai jiwa dan kehormatan anak, maka sebaiknya kita memberikan nasehat pada waktu yang tepat.

Bunda Tika di Purwokerto, pada dasarnya mendekatkan anak dengan Alquran adalah sebuah perbuatan yang baik dan sebuah pendidikan yang baik. walaupun Alquran yang dimaksud tidak harus berupa sebuah mushaf. Toh sekarang ini Alqur’an bisa kita temukan di laptop, bisa kita temukan di gadget dan sebagainya. Sehingga kehawatiran yang tadi ibu bayangkan itu bisa dihindarkan.

Namun demikian jika kita memang harus mendekatkan anak-anak dengan Mushaf Al Quran, tentunya jika dia masih terlalu kecil ada resiko dimana Alquran itu bisa rusak. 
Nah pada situasi semacam ini tentunya yang harus kita hindari adalah jangan sampai Alquran itu ada yang robek, karena merusak keutuhannya.

Dan di sisi lain saya juga ingin menyampaikan : walaupun kita sangat ingin mendekatkan anak dengan Al Quran sedini mungkin, tapi sekali lagi pembelajaran pembelajaran yang bersifat Syariah itu sebaiknya kita perkenalkan pada saat anak telah berusia mumayyiz, alias 7 tahun. Karena pada saat itu kita lebih mudah memperkenalkan kepada anak mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak.

Bunda Nisa di Pekalongan, tentang pendidikan konsentrasi, itu sangat tergantung dari anak itu telah berusia berapa. Jika usianya masih dibawah 5 tahun, tentunya kita tidak bisa berharap anak itu dapat berkonsentrasi dalam waktu lama. Karena memang fokus, minat, hasratnya pada saat itu masih berubah-ubah
Oleh karena itu  jika usia anak kita masih dibawah 7 tahun, janganlah kita memaksakannya untuk melakukan suatu pekerjaan atau project dimana membutuhkan konsentrasi anak dalam rentang waktu yang panjang.

Sebenarnya pendidikan berbasis project baru cocok pada saat anak telah berusia 10 tahun atau duduk di kelas 4. Karena pada saat itu fokus  konsentrasi, daya tahan dan minatnya sudah relatif lebih stabil.

Bunda Ririn dari Ambon, sekali lagi itu sangat tergantung dari anaknya telah berusia berapa.
Membangun kesepakatan baru cocok pada anak-anak yang telah berusia 10 tahun keatas. Karena anak pada usia 10 tahun sudah kita ajarkan tanggung jawab sosial, kontrak sosial dan kesepakatan sosial.

Namun jika kesepakatan kesepakatan tersebut telah kita upayakan pada anak dibawah 10 tahun, apalagi pada anak dibawah 7 tahun, adalah sangat wajar kalau kemudian mereka akan cenderung melanggar kesepakatan-kesepakatan tersebut. Permasalahan terbesarnya sebenarnya bukan pada anak, tapi kepada kita yang terlalu cepat dalam membangun kesepakatan dan kontrak sosial.


Pada anak yang berusia 7 sampai 10 tahun fokuskan dulu sajalah pada tanggung jawab pribadinya, seperti meletakkan tas, menyimpan buku, merapikan pakaian dan sebagainya.
Untuk bunda Desy dari Batam, kok saya melihatnya terlalu cepat ya anak usia 23 bulan sudah dihadapkan dengan instruksi dan larangan.

Memang pada awalnya dia akan patuh dan menurut. Tetapi ketika dia mulai memasuki usia 2 tahun, dia akan cenderung melanggar dan melawannya. Karena dalam dunia psikologi usia 2 tahun disebut sebagai fase negativistik, yaitu fase untuk membantah  melanggar dan melawan instruksi.


Fase negativistik itu terjadi karena sejak umur 2 tahun anak telah memiliki konsep diri. Dia telah memiliki pemahaman tentang Aku
, ingin menunjukkan kepada orang dewasa bahwa dia sudah punya kehendak sendiri. Fase negativistik ini pada dasarnya baru akan berkurang saat anak memasuki usia 6 atau 7 tahun.โœ…

๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’

https://www.facebook.com/IIPBanyumasRaya/

Advertisements

2 thoughts on “Resume Kulwap : Tazkiyatun Nafs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s