Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Waktunya Ayah Baca 

Seperti biasa, sebelum saya mengerjakan challange Bunda Sayang, saya selalu melakukan family forum dengam suami, baik langsung maupun via chat kalau suami sedang ada kerjaan di luar kota. Termasuk pada game level 5 ini, melalui chat WA saya menjelaskan bagaimana game ini dilakuan dan keputusannya kami sepakat membuat pohon literasi saja.

———-

‘Kalau baca chatting gimana?’, tanya suami.

‘Hihi, ya gak bisa dong yah. Tapi artikel bisa.’

‘Tapi kan chat di grup yang Ayah ikuti banyak ilmu juga, soalnya tentang forex’

‘________’, saya bingung sendiri. 

———-

Sekitar 3 bulan ke belakang, suami saya memang sedang belajar tentang forex (foreign exchange) terutama yang sudah terbukti tidak melakukan praktek-praktek haram. 

Beberapa grup telegram tentang forex suami ikuti, tak jarang pula ikut aktif diskusi di dalamnya. Memang sih grupnya aktif diskusi kalau kata pak suami, sampai-sampai pernah ditinggal setengah jam udah ada 1000 lebih chat 😱. Tapi katanya gak rugi baca manjat satu-satu, ilmu semua katanya. 

Hmm..masuk baca gak ya? *masih bingung. Tapi kalau begitu ceritanya, berarti emang pak suami dapat ilmu dengan membaca kan ya. Yo wis, ayah Raaiq emang bacanya (sekarang) lagi tentang forex yang kebetulan nimba ilmunya lewat grup telegram. 

Nah, salah satu yang bisa diteladani Raaiq dari ayahnya adalah gaya belajar otodidak-nya. Kalau pak suami ingin mempelajari sesuatu hal, doi akan mencari bahan ataupun media yang dapat memfasilitasi keingintahuannya terhadap suatu ilmu. Belajar otodidak pun perlu keahlian membaca kan dalam memahami ilmunya. So that’s the point! 😁😁

Selanjutnya, kami berdua membuat ‘catatan’, meski kita sering nimba ilmu via grup chat, yang pastinya kita akan mantengin HP terus. Tapi kalau di depan anak taglinenya tetap ‘no HP’, apalagi anak kami belum genap 2 tahun. Anak mana tau kan kita lagi chatting, lagi baca, atau padahal kita lagi baca Quran misalnya. Yang anak tahu, orang tuanya main HP. 

#GameLevel5

#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst 

#4


Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Waktunya Bunda Baca

Sebetulnya target baca Ramadhan kali ini tuh buku Fitrah Based Education karya Ust. Harry Santosa. Eh tapi mau bilang apa, sampai 10 terakhir Ramadhan pun cuma berapa lembar yang sempat dibaca. 

Memang bisa dibilang waktu baca paling efektif bagi saya itu malam hari, kalau Raaiq udah tidur lelap. Tapi sekarang Raaiq tidurnya jam 10 malam, jadi Bundanya susah cari waktu baca biar tenang. Kalaupum siang hari mau baca, bisaaaa tapi sebelum 1 halaman selesai baca, anak udah ngajak main lagi. Dan jujur aja kalau anak saya ini ditinggal baca buku atau kegiatan yang butuh konsentrasi, suka kadang jadi was-was emaknya. Khawatir jatuh lah, atau tumpahin air lah, yang pasti kalau anak ini masih on bisa dibilang perhatiannya harus 90% sama doi. 

Nah, sayangnya kalau Raaiq tidur siang, Bunda yang ngelonin pun ikut terlelap. Ditambah seminggu yang lalu Raaiq sariawan dan demam, alhasil tidur siang dan malamnya pun terganggu. Mata bundanya pun jadi tak terkondisikan untuk baca, yang ada ikut ngantuk karena sama-sama terganggu tidur. 

Ya sudah saya pikir, dari pada tidak baca sama sekali, saya pun selalu sempatkan baca artikel-artikel yang berseliweran di medsos, terutama WA dan FB. 

Karena ini 10 hari terkahir, banyak di grup WA yang share buku digital tentang keutamaan 10 hari terakhir dan catatan tentang i’tikaf. 

Melalui penjelasan K.H. Aceng Zakaria, yang merupakan Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), saya jadi diingatkan kembali bahwa i’tikaf itu bukan hanya sehari dua hari saja, atau bahkan hanya ikut di malam ganjil saja. Tapi i’tikaf itu sepaket 10 malam terakhir (atau 9 malam terkahir jika 29 hari). Untuk selengkapnya bisa dibaca artikel berikut, K.H. Aceng Zakaria : I’tikaf dan permasalahannya.

Selain itu, pas saya surfing di FB saya menemukan artikelnya teh Shanty Dewi Arifin, tentang keterampilan sosial. Judul lengkapnya ‘Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak bersama Anna Surti di Seminar Parenting SGM Eksplor Bandung‘. Pas banget buat saya yang lagi seneng baca artikel tentang social skill.

Oleh-oleh seminar dari teh shanty ini alhamdulillah membantu saya dalam memahami kembali seberapa pentingnya katerampilan sosial ini untuk kesuksesan anak di masa depan. Oia, di artikel ini pun dituliskan bedanya attachment dan bonding loh! Saya pun tepok jidat, oooh itu toh bedanya 😀. #kemanaajasaya

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#3

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

‘Uyus’ for Dinosaurus 

‘Buda, mana uyusnya?’

Kalau Raaiq sudah bertanya itu, berarti bocah ini lagi nyari buku dinosaurus yang seminggu lalu Bundanya belikan. 

Pelafalan yang tidak sempurna ketika menyebutkan dinosaurus memang membuat level kelucuan bocah ini naik beberapa tingkat 😀

Tapi tetep ya, orang dewasa di sekitarnya menyebut dinosaurus, biar anak tidak terbiasa dicadel-cadel-in dan menyebutkan dengan ejaan yang benar 💪💪

Nah, setelah beberapa waktu lalu kami mengajak Rq melihat fosil dino di museum geologi Bandung dan miniaturnya di taman lansia. Maka sekarang untuk mewadahi ketertarikannya terhadap dino ini, maka saya belikan bukunya. 

Dan ternyata dari 5 buku yang saya belikan, buku ‘uyus’ ini selalu dicari pertama kalinya. 

‘Buda, mana uyusnya?’

Kalau sudah pegang bukunya, kurleb 3 menit bocah ini bisa anteng bacanya alias bolak balik lihat gambarnya, tak bosan-bosannya menyebutkan mana durinya dan mana ekornya. 

Dan karena buku ini bukan buku cerita, jadi saya selalu mencoba membuat cerita karangan untuk Raaiq, tapi sebelum cerita beres kadang anaknya udah ngacir duluan atau malah lebih antusias menunjukkan apa yang dia lihat. 

‘Buda, mana ekornya’

‘Buda, ini durinya’

Tapi alhamdulillah meski bikin cerita karangan, tapi ada selipan pengetahuan dong. Kalau dinosaurus itu ada yang memakan tumbuhan seperti halnya sapi dan ada juga yang memakan daging layaknya singa. 😇😇

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KelasBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#2