Bunda Cekatan

Jurnal Harian Kepompong Sofi (1)

Bismillahirrahmaanirrahim.

Tiba pula, aku masuk di jurnal harian fase kepompong. 2 fase telah kulewati sudah, yaitu fase telur dan ulat.

2 fase sebelumnya sangat kunikmati dengan berbagai makanan dan camilan yang kuambil sesuai kebutuhanku. Aku belajar bagaimana memilih dan memilah apa yang menjadi makanan utamaku dan hanya sebatas camilan.

Dan kini fase kepompong adalah fase dimana aku berpuasa selama 30 hari ke depan dengan fokus untuk menaklukkan satu tantangan agar aku bisa kuasai selama puasa ini.

Dari awal memang aku sudah yakin bahwa mindfulness adalah satu keahlian yanh ingin aku kuasai selama menjalani fase buncek ini.

Aku tak tergoyahkan, meski godaan dari kanan-kiri sungguh menggiurkan dan rasanya memang aku perlukan. Itu membuat cukup tertarik tapi aku putuskan belum menarik untuk perjalanan buncek ini.

Mindfulness menjadi makanan sekaligus teman perjalanan yang ternyata cukup menantang untuk ditaklukkan.

Masih sering kali aku kebablasan melupakan ilmu mindfulness ini, masih berjalan dan beroperasi dengan default diri yang menjadi kebiasaan.

Kini, saatnya aku benar-benar sadar untuk menantang diri selama 30 hari dalam mempraktekkan mindfulness.

Apa yang ingin ku taklukkan?

Sejujurnya memang banyak turunan ilmu yang ada di mindfulness. Dan untuk 30 hari ini aku memilih kemampuan untuk bisa sadar nafas dan mengambil jeda. Khususnya dalam berinterkasi di dalam rumah dengan anak dan pasangan. Apalagi qadarullah, 14 hari di akhir bulan Maret ini ada himbauan #dirumahsaja untuk memutus rantai penyebaran virus corona (covid-19).

Ini adalah kesempatan yang Allah berikan kepadaku untuk menaklukkan tantangan sebaik mungkin.

Salah satu cuan yang aku dapatkan yaitu dari tulisan Adjie Silarus dalam bukunya Sadar Penuh Hadir Utuh.

Tanggal 24 Maret 2020/29 Rajab adalah tantangan pertamaku.

Ku coba mengatur pikiran dan perasaanku agar aku selalu sadar penuh hadir utuh ketika menyikapi setiap peristiwa yang lalu lalang di depanku.

Bermain bersama anak dengan diniatkan ibadah, divisualisasikan bahagia, dan tidak disambi dengan kegiatan apapun membantuku bisa mengambil jeda cukup baik ketika ada reaksi atau perilaku anak yang menurutku “menggemaskan”.

Kemarin anakku ku rasa bertingkah lebih aktif dan ekspresif di rumah neneknya. Sempat membuatku gemas apalagi ketika dia keukeuh ingin bantu neneknya membuat kue dan tidak bisa aku beri saran.

Aku sempat mengekspresikan kesalku, tapi tak berlangsung lama.

Lalu, annaku menyobekkan kertas yang akan aku pakai dan telah kusiapkan dengan baik. Lagi, aku mengekspresikan kesalku langsung, tapi tak sampai 3 menit, aku segera mengambil jeda dengan diam dan tak bicara apapun.

Begitu terus terasa naik turun, hingga aku tahu kalau ternyata fokusnya memang di diriku sendiri, karena emosi itu akan menular.

Mindfulness menjagaku agar tetap tidak hilang kendali. Mengubah default diri yang kurang baik.

Buktinya ketika aku membujuknya untuk pulang, sedangkan anakku masih mau menonton. Aku bisa lebih tenang membujuk, memberikan alternatif lain, dan membuat kesepakatan, akhirnya anak pun mau mendengarkan dan mematuhi apa yang aku inginkan.

Hasil untuk hari ini menurutku :

Karena aku bisa mengambil jeda cukup baik.

One thought on “Jurnal Harian Kepompong Sofi (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s