Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Waktunya Ayah Baca 

Seperti biasa, sebelum saya mengerjakan challange Bunda Sayang, saya selalu melakukan family forum dengam suami, baik langsung maupun via chat kalau suami sedang ada kerjaan di luar kota. Termasuk pada game level 5 ini, melalui chat WA saya menjelaskan bagaimana game ini dilakuan dan keputusannya kami sepakat membuat pohon literasi saja.

———-

‘Kalau baca chatting gimana?’, tanya suami.

‘Hihi, ya gak bisa dong yah. Tapi artikel bisa.’

‘Tapi kan chat di grup yang Ayah ikuti banyak ilmu juga, soalnya tentang forex’

‘________’, saya bingung sendiri. 

———-

Sekitar 3 bulan ke belakang, suami saya memang sedang belajar tentang forex (foreign exchange) terutama yang sudah terbukti tidak melakukan praktek-praktek haram. 

Beberapa grup telegram tentang forex suami ikuti, tak jarang pula ikut aktif diskusi di dalamnya. Memang sih grupnya aktif diskusi kalau kata pak suami, sampai-sampai pernah ditinggal setengah jam udah ada 1000 lebih chat 😱. Tapi katanya gak rugi baca manjat satu-satu, ilmu semua katanya. 

Hmm..masuk baca gak ya? *masih bingung. Tapi kalau begitu ceritanya, berarti emang pak suami dapat ilmu dengan membaca kan ya. Yo wis, ayah Raaiq emang bacanya (sekarang) lagi tentang forex yang kebetulan nimba ilmunya lewat grup telegram. 

Nah, salah satu yang bisa diteladani Raaiq dari ayahnya adalah gaya belajar otodidak-nya. Kalau pak suami ingin mempelajari sesuatu hal, doi akan mencari bahan ataupun media yang dapat memfasilitasi keingintahuannya terhadap suatu ilmu. Belajar otodidak pun perlu keahlian membaca kan dalam memahami ilmunya. So that’s the point! 😁😁

Selanjutnya, kami berdua membuat ‘catatan’, meski kita sering nimba ilmu via grup chat, yang pastinya kita akan mantengin HP terus. Tapi kalau di depan anak taglinenya tetap ‘no HP’, apalagi anak kami belum genap 2 tahun. Anak mana tau kan kita lagi chatting, lagi baca, atau padahal kita lagi baca Quran misalnya. Yang anak tahu, orang tuanya main HP. 

#GameLevel5

#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst 

#4


Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Waktunya Bunda Baca

Sebetulnya target baca Ramadhan kali ini tuh buku Fitrah Based Education karya Ust. Harry Santosa. Eh tapi mau bilang apa, sampai 10 terakhir Ramadhan pun cuma berapa lembar yang sempat dibaca. 

Memang bisa dibilang waktu baca paling efektif bagi saya itu malam hari, kalau Raaiq udah tidur lelap. Tapi sekarang Raaiq tidurnya jam 10 malam, jadi Bundanya susah cari waktu baca biar tenang. Kalaupum siang hari mau baca, bisaaaa tapi sebelum 1 halaman selesai baca, anak udah ngajak main lagi. Dan jujur aja kalau anak saya ini ditinggal baca buku atau kegiatan yang butuh konsentrasi, suka kadang jadi was-was emaknya. Khawatir jatuh lah, atau tumpahin air lah, yang pasti kalau anak ini masih on bisa dibilang perhatiannya harus 90% sama doi. 

Nah, sayangnya kalau Raaiq tidur siang, Bunda yang ngelonin pun ikut terlelap. Ditambah seminggu yang lalu Raaiq sariawan dan demam, alhasil tidur siang dan malamnya pun terganggu. Mata bundanya pun jadi tak terkondisikan untuk baca, yang ada ikut ngantuk karena sama-sama terganggu tidur. 

Ya sudah saya pikir, dari pada tidak baca sama sekali, saya pun selalu sempatkan baca artikel-artikel yang berseliweran di medsos, terutama WA dan FB. 

Karena ini 10 hari terkahir, banyak di grup WA yang share buku digital tentang keutamaan 10 hari terakhir dan catatan tentang i’tikaf. 

Melalui penjelasan K.H. Aceng Zakaria, yang merupakan Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), saya jadi diingatkan kembali bahwa i’tikaf itu bukan hanya sehari dua hari saja, atau bahkan hanya ikut di malam ganjil saja. Tapi i’tikaf itu sepaket 10 malam terakhir (atau 9 malam terkahir jika 29 hari). Untuk selengkapnya bisa dibaca artikel berikut, K.H. Aceng Zakaria : I’tikaf dan permasalahannya.

Selain itu, pas saya surfing di FB saya menemukan artikelnya teh Shanty Dewi Arifin, tentang keterampilan sosial. Judul lengkapnya ‘Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak bersama Anna Surti di Seminar Parenting SGM Eksplor Bandung‘. Pas banget buat saya yang lagi seneng baca artikel tentang social skill.

Oleh-oleh seminar dari teh shanty ini alhamdulillah membantu saya dalam memahami kembali seberapa pentingnya katerampilan sosial ini untuk kesuksesan anak di masa depan. Oia, di artikel ini pun dituliskan bedanya attachment dan bonding loh! Saya pun tepok jidat, oooh itu toh bedanya 😀. #kemanaajasaya

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#3

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

‘Uyus’ for Dinosaurus 

‘Buda, mana uyusnya?’

Kalau Raaiq sudah bertanya itu, berarti bocah ini lagi nyari buku dinosaurus yang seminggu lalu Bundanya belikan. 

Pelafalan yang tidak sempurna ketika menyebutkan dinosaurus memang membuat level kelucuan bocah ini naik beberapa tingkat 😀

Tapi tetep ya, orang dewasa di sekitarnya menyebut dinosaurus, biar anak tidak terbiasa dicadel-cadel-in dan menyebutkan dengan ejaan yang benar 💪💪

Nah, setelah beberapa waktu lalu kami mengajak Rq melihat fosil dino di museum geologi Bandung dan miniaturnya di taman lansia. Maka sekarang untuk mewadahi ketertarikannya terhadap dino ini, maka saya belikan bukunya. 

Dan ternyata dari 5 buku yang saya belikan, buku ‘uyus’ ini selalu dicari pertama kalinya. 

‘Buda, mana uyusnya?’

Kalau sudah pegang bukunya, kurleb 3 menit bocah ini bisa anteng bacanya alias bolak balik lihat gambarnya, tak bosan-bosannya menyebutkan mana durinya dan mana ekornya. 

Dan karena buku ini bukan buku cerita, jadi saya selalu mencoba membuat cerita karangan untuk Raaiq, tapi sebelum cerita beres kadang anaknya udah ngacir duluan atau malah lebih antusias menunjukkan apa yang dia lihat. 

‘Buda, mana ekornya’

‘Buda, ini durinya’

Tapi alhamdulillah meski bikin cerita karangan, tapi ada selipan pengetahuan dong. Kalau dinosaurus itu ada yang memakan tumbuhan seperti halnya sapi dan ada juga yang memakan daging layaknya singa. 😇😇

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KelasBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#2

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Pohon Literasi 

Akhirnya, setelah rangkaian acara di sekolah bisa juga ngerjain projek buat pohon literasi yang super very simple ini 😹😹. Meski begitu, ini hasil kerja sama Raaiq sama Bundanya 👏👏

Cuma diorat oret seadanya (soalnya kalau dibilang dilukis asa gaya teuing 😸 ), di atas selembar scetch book A3 punya Ayah Raaiq, pakai kuas dan cat air yang cuma sisa warna cokelat dan kuning

Idealnya sih bikin dari karton atau sejenisnya buat ditempel di tembok layaknya gambar pohon yang real. Jadi nantinya biar lebih kelihatan rimbunnya pohon karena banyak buku yang dibaca

Tapi dari pada ditunda terus ngerjainnya karena ingin yang ideal dan perlu waktu yang tidak sebentar, ya mending take action aja dengan bahan yang ada dan bisa dikerjakan segera. 

Terus dipikir-pikir mending di scetch book aja deh biar nanti bisa diarsipin jadi portfolio Raaiq juga. Lagian kalau ditempel ditembok sudah pasti peluang Raaiq buat nyobek pohon yang ditempel lebih besar.

Moga kalau nanti sikon sudah kondusif bisa buat pohon literasi yang lebih ‘layak’ 😀

Yang penting tujuan utama agar Raaiq suka membaca bisa tercapai 💪💪 dan tentu yang utama adalah ortunya bisa jadi teladan yang baik dalam hal membaca

Dan hari ini (juga beberapa hari ke belakang), lagi senang dibacakan buku Hallo Balita yang judulnya ‘Aku Berani Tidur Sendiri’

Sengaja dikenalkan dengan judul buku ini sebagai persiapam Raaiq untuk bisa tidur sendiri

.

#GameLevel5

#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#1

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Aliran Rasa : Gaya Belajar Anak 

If a chlid can’t learn the way we teach, maybe we should teach the way they learn.

-Ignacio Estrada-

Tak aneh lagi kalau tantangan di Bunda Sayang IIP memang selalu membuat saya semakin aware terhadap perkembangan anak setiap harinya, bahkan dari setiap detiknya. 

Watch, engage, listen menjadi formula andalan dalam mengobservasi anak ketika membersamainya. Setiap tingkah polahnya, celotehannya, rengekannya, tangisannya, bahkan sentuhannya menjadi ‘data’ setiap harinya sebagai bahan observasi saya setiap harinya.

Dalam mengobservasi gaya belajar kali ini, rasanya saya agak kebingungan memang di awalnya. Beberapa sceptical question saya ajukan kepada diri saya sendiri. Mengajak berdiskusi dengan saya yang masih mempertanyakan apakah gerangan gaya belajar Sang Buah Hati, Raaiq.

Apakah benar Raaiq memiliki kecenderungan salah satu gaya belajar atau malah perpaduan di antara ketiganya?

Data yang saya kumpulkan memang kadang kala menunjukkan gaya belajar yang berbeda-beda setiap harinya. Kadang kala yang ditunjukkan gaya belajar visual, kadang audio, atau kinestetik.

Saya makin bingung, belum berani mengambil kesimpulan. Saya buka lagi materi-materi mengenai gaya belajar di kelas Bunda Sayang. Saya bolak balik baca materinya. Terbuka sedikit demi sedikit pertanyaan saya. 

Bahwa memang tidak harus semua anak memiliki kecenderungan terhadap salah satu gaya belajar. Bisa jadi anak memiliki perpaduan ketiga gaya belajar tersebut. Tergantung juga pada situasi yag dihadapi anak. Nah, tugas kami lah sebagai orang tua untuk memberi stimulasi dari ketiga gaya belajar. 

Oke saya pun bisa mulai sedikit menyimpulkan, kalau Raaiq memang memiliki perpaduan ketiga gaya belajar itu sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami. 

Maksudnya?

Begini, gaya belajar kinestetik muncul ketika dihadapkan dengan alam/lingkungan luar dan mainan/benda yang baru. 

Di luar rumah, Raaiq bisa dibilang tidak suka dengan stagnansi, misalnya duduk berlama-lama atau digendong oleh orang tuanya. Kalau kita pergi jauh, anak ini pasti menolak masuk mobil, meronta-ronta, karena ruang geraknya terbatas. Raaiq juga cenderung lebih suka ekplorasi sendiri benda/mainan baru, kalau dicontohkan atau diperlihatkan malah cenderung tidak terlalu suka. 

Nah, ketika dia mendapatkan kesulitan ketika mengeksplorasi, biasanya Raaiq mengembangkan gaya belajar visual dengan bertanya ‘bagaimana?’. Artinya Raaiq minta untuk dicontohkan bagaimana suatu benda berfungsi. 

Sedangkan gaya belajar audio, ini terbukti dari cara menangkap suara dan bunyi lewat hapalan Quran dan lagu-lagu. He is very awsome! *kata emaknya mah..hehe

Begitulah kesimpulan saya sementara waktu, masih banyak PR yang harus saya kerjakan terkait observasi ketiga gaya belajar Raaiq ini. Tapi betul poin pentingnya adalah harus sebaik mungkin untuk menstimulasi modalitas gaya belajarnya melalui ke-7 panca inderanya, sehingga kita punya data akurat dalam membimbing anak sesuai gaya belajarnya. 

Kalau kata bu Septi mah :

Yang penting anak pernah merasakan semua gaya belajar. Secara fitrah dirinya akan belajar mengikuti “suara hati kecil” akan menggunakan gaya yang mana, atau mengkombinasikan banyak gaya bergantung badai yg dihadapi .Ikuti suara hati kecil itu biarkan dia yang bersujud membisikkan ke seluruh bumi dan diamini oleh seluruh penghuni langit. (Septi Peni Wulandani)

=====

#Aliran Rasa 

#Level4

#KelasBunsayIIP

#GayaBelajarAnak

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Menemukan Gaya Belajar Anak 10

Yeay! Saya menemukan bukti lagi nih kalau Raaiq memiliki kecenderuan bergaya belajar kinestetik saat bertemu barang baru. 

Berdasarkan cerita ibu mertua hari Rabu yang lalu (ceritanya saya tulis disini) , kalau Raaiq sangat takut pada suara mainan mobil yabg baru dilihatnya. 

Nah, hari ini giliran saya dan Raaiq yang bermain ke rumah saudara sepupu. Awalnya saya sama sekali tidak ingat dengan mainan mobil itu, sampai akhirnya mobil itu diberikan om Raaiq yang masih kecil kepadanya. 

‘Matii..matiin..’, seru Raaiq, tanda kalau dia tidak suka mainan mobil itu dinyalakan. Semua orang yang ada disana pun, maklum dan tidak menyalakan mobilnya. Tapi saya sendiri, menyodorkan langsung pada Raaiq, ‘nih, coba kaka main sendiri aja, gak usah dinyalain kalau gak mau’.

‘Kaka tuh mau mainin sendiri ya’, saya mendorongnya untuk mengeksplorasi sendiri. ‘Oke silakan ka’, Raaiq mengambil mobilnya lalu memainkannya sendiri, emosi takut yang semula ada sedikit pudar dari wajahnya, bahkan ketika dia mencoba memijit tombol on dan mobil menyala (meski baru sebentar, karena asa distraksi dari lingkungan sekitar), saya lihat emosi takutnya tidak kuat sema sekali. 

Tuh kaaaan, benar analisis saya terhadap gaya belajar Raaiq yang cenderung kinestetik. Buktinya emosi takut tak lagi terlihat kuat di wajahnya, ketika saya sodorkan langsung mainan itu ke0ada Raaiq. 

Selain itu gaya belajar audio pun cenderung dikembangkan Raaiq ketika mendengar suatu lagu baru ataupun surat-surat yang diperdengarkan langsung kepadanya (hari ini Raaiq mendengar ambunya memperdengarkan 1 ayat an-naba kepadanya). Raaiq pasti bilang, ‘lagi…lagi…’, artinya dia ssdang mencoba menghapal dan menangkap informasi melalui indera pendengarannya, yang berarti pada saat itu Raaiq sedang mengembangkan gaya belajar audio.

#Hari10

#level4 q

#KuliahBunsayIIP

#GayaBelajarAnak

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Menemukan Gaya Belajar Anak_9

Di hari ke-9 ini, sudah mulai terlihat celah-celah gambaran akan kecenderungan gaya belajar Raaiq. Meski masih bingung-bingung dengan analisis yang dibuat sendiri, tapi saya sangat menikmati misi menemukan gaya belajar anak ini. 

Hari Kamis yang lalu, seusai pulang sekolah seperti biasa saya berusaha menemani anak main dengan sepenuh hati. Seringnya ‘no gadget’, jadi kalau pulang sekolah sudah ‘bye-bye’ deh sama hape. That’s why kalau lagi main, dokumentasinya jarang ada 😪😪.

Pengennya sih ngajak anak main di luar pas sore itu, main tanah yang saya pernah janjikan. Tapi cuaca di luar mulai mendung, bukan mulai lagi deh, emang udah mendung dari tadi siang. Akhirnya, ya kita main seadanya di rumah. 

Sesuai dengan analisis saya hari sebelumnya, bahwa Raaiq memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik jika menemukan barang baru, sepertinya betul adanya. Ketika main, anak ini menemukan alat pengupas sayur/buah. Awalnya saya coba mengambilnya langsung, khawatir melukai tangannya. 

Untung saja, Raaiq keukeuh gak mau diambil, jadi saya bisa tersadar kalau ini kesempatan saya melihat gaya belajarnya. Bener ya, saya dan orang sekitar emanag suka terburu-buru untuk menunjukkan bagaimana suatu alat bekerja dan berfungsi tanpa memberikan ruang kepada Raaiq untuk mengembangkan kecenderungan gaya belajarnya 😢😢.

Benar saja, Raaiq senang bisa memainkan sendiri sesuka hati sebagaimana sekehendaknya sendiri alat pengupas sayur/buah itu. Diberdirikan, digosok-gosok ke karpet, bahkan dijadikan sebagai hape. Haha..

Ya, coba kita telusuri lagi gaya belajar Raaiq ini. Semakin saya bingung, semakin saya tertantang nih. 

#Hari9

#Level4

#KuliahBunsayIIP

#GayaBelajarAnak 

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Menemukan Gaya Belajar Anak_8

Hari Rabu kemarin tiba-tiba teteh yang biasa ngasuh Raaiq gak masuk. Padahal jam menunjukkan pukul 07.05, sudahlah berarti saya akan kesiangan ke sekolah. Terpaksa juga Raaiq harus dititip ke ibu mertua, gak enak juga sebenarnya, pastinya ibu mertua pun memiliki urusan yang harus diselesaikan. Sudah menawarkan agar Raaiq saya bawa saja ke sekolah, tapi ibu mertua menolak. Gak apa-apa katanya, nanti juga banyak yang nemenin, yaitu saudara-saudara sepupu Raaiq. 

Baiklah, akhirnya saya pun berangkat setelah mengantar ibu mertua dan Raaiq ke rumah saudara. 

Seperti biasa, pulang sekolah saya menanyakan apa saja yang dilakukan Raaiq. Kata ibu mertua, Raaiq menolak untuk memainkan mainan baru dari Abahnya yang pulang dari umrah. Mainan mobil dan mainanpenguin yang bisa berjalan dan bersuara cukup nyaring. 

‘Jangan..jangan…Aiqq takut..’, katanya ketika mainan itu disodorkan.Disentuh dadanya pun berdetak sangat cepat, cerita ibu mertua.

Nah, itulah Raaiq kalau ada suara dari mainan baru, anak ini selalu menolak dan cenderung takut mendengar suaranya. Malah kadang sampe minta digendong dan tangannya memegang erat tubuh saya atau ayahnya. Kami selalu coba sedikit-sedikit menetralkan emosinya dengan menjelaskan bahwa tidak ada bahaya yang ditimbulkan mainan tersebut sambil kami terus menunjukkan bagaimana cara memainkannya. Dan memang pada akhirnya Raaiq pun akan bereaksi biasa setelah sebelumnya menunjukkan emosi yang cukup kuat. 

Hmmm…

Sambil ngobrol santai dengan ibu mertua, saya coba menganalisis kembali apa gerangan yang terjadi dengan Raaiq.

Mungkin Raaiq memiliki pendengaran yang lebih sensitif, seperti ayahnya. Tapi sama petir sama sekali tidak takut ya..

Mungkinkah Raaiq termasuk anak yg hipersensitif pada indra pendengarannya ya? jadi suka takut pada beberapa jenis bunyi-bunyian. 

Bisa jadi sih ini, berarti saya harus sedikit demi sedikit kasih terapi kepada Raaiq, yaitu mendengarkan dari suara yang lembut menunu suara yang keras. 

Daan, tiba-tiba saya pun dapat hasil analisis yang lain. 

Mungkin, Raaiq memang ada kecenderungan bergaya belajar kinestetik. Dia akan lebih suka memainkan dahulu sendiri mainan yang baru dari pada kita memperlihatkan dan memberitahu cara mainnya. Karena sering kali, kita yang orang dewasa yang semangat untuk menunjukkan bagaimana cara memainkannya pada Raaiq, artinya kami yang orang dewasa yang terburu-buru memberi stimulus, tanpa memberikan kesempatan pada Raaiq bagaimana cara enjoy dia dalam ‘menghadapi’ mainan baru.

Jadinya Raaiq kaget dukuan dengan suara mainanan. Padahal, meski Raaiq ketakukan pada awalnya, tapi setelah itu Raaiq enjoy saja memainkan mainannya. 

Oke-oke, kita coba lagi, kita ganti stimulusnya. Tidak langsung diperlihatkan bagaimana cara sebuah mainan baru bergerak atau beroperasi sebelum Raaiq mencobanya sendiri. Kita lihat apakah reaksi Raaiq terhadap suaranya sama? 

#Hari8

#Level4

#KuliahBunsayIIP

#GayaBelajarAnak 

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Menemukan Gaya Belajar Anak_7 

Bunda, apa yang Bunda rasakan jika membawa anak berkeliling kota selama seharian? 

Kayaknya tergantung usia anak ya bun, kalau usia anaknya udah 4 tahun lebih enjoy soalnya anak relatif sudah bisa diatur dan mandiri. Kalau usia anak di bawah 3 tahun, nah ini yang jadi tantangannya. Capek deh kalau menurut saya, apalagi anaknya banyak gerak karena sedang masa eksplorasi. 

Hari Jumat minggu yang lalu, sesuai jadwal saya pergi ke RS Hermina Pasteur untuk perawatan gigi. Ya, seperti biasa kalau perginya diantar suami, pasti kami menyempatkan dulu buat berkeliling kota, sekalian ada yang harus kami beli. 

Ini kesempatan saya juga untuk mengamati gaya belajar anak saya, Raaiq, yang sebentar lagi mau 2 tahun. Di mall yang kami masuki, Raaiq selalu senang kalau naik eskalator, lift, ataupun naik turun tangga. 

Setiap kids corner yang ada, seperti Time Zone, Game Master, dan Fun World, Raaiq masuki. Berbagai macam permainan yang menariknya, dia coba. Apalagi di salah satu kids corner ada mainan kereta api. Hmm, tertariklah dia, sampai 2 kali naik. Tapi saya lihat ekspresinya ketika naik berkeliling kereta, dataarrr… tanpa senyum. Loh kenapa Raaiq? 

Mungkin dirinya menikmati setiap getaran dan gerakan yang dihasilkan kereta mainan itu, pikir saya. Soalnya ketika saya tanya langsung, ‘Ka, lagi apa sayang, seneng ya naik kereta, menikmati banget’. Baru deh anak ini senyum lebar, eh udah itu datar lagi. Haha

Nah, saya coba mengingat kembali ekspresi Raaiq setiap naik permainan di kids corner, terutama mainan yang bergerak dan bergetar. Ekspresinya sering kali memang datar. 

Beda lagi ekspresinya ketika kami memasuki toko sepatu, dengan sumringah setiap sepatu dia coba untuk dipakai, padahal yang dicoba sepatu buat Bundanya. Raaiq minta membuka sepatu yang sedang dipakainya karena ingin mencoba sepatu yang diambil dari rak display. 

‘Buda, nih cukup..’, celotehnya. Maksudnya kalau sepatu yang dia ambil cukup di kakinya, padahal mah engga..haha

Udah beres pilih sepatu, waktunya masuk mobil buat pergi ke tempat makan. Ehhh, Raaiq malah nangis, nolak buat masuk mobil. Mungkin tenaganya masih kurang dikeluarkan, makanya dia nolak naik mobil, di mobil kan Raaiq cuma bisa diam. 

***

Oke, jadi dari observasi kejadian di atas, apakah gerangan gaya belajar Raaiq? 

Kalau dilihat dari perilaku yang ditampilkan Raaiq, sudah tentu gaya belajar yang menonjol hari ini adalah kinestetik. Raaiq menyerap segala informasi di lingkungannya melalui gerakan, hentakan, getaran yang dirasakan, dan sebagiannya. 

Termasuk ekspresi datar yang ditampilkannya ketika naik kereta, meski datar, tapi saya pikir Raaiq sedang menangkap informasi akan hetaran dan gerakan dengan menikmati setiap sensasinya melalui indera vestibular dan proprioseptip. Yang juga menjadi modalitas belajar dalam mengembangkan gaya belajar konestetik. 

#Hari7

#Level4

#KelasBunsayIIP

#GayaBelajarAnak 

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Menemukan Gaya Belajar Anak_6 

Masih dengan pertanyaan, memiliki gaya belajar apakah Raaiq? 

Jika dingat-ingat kembali, Raaiq memiliki perbedaan antara gaya belajar untuk melatih motorik kasar dan motorik halusnya.

Ketika motorik kasar yang diberi stimulus, Raaiq cenderung mengembangkan gaya belajar kinestetik. Misalnya dalam belajar naik sepeda, anak ini bisa naik dari arah mana saja yang dia suka tanpa kami contohkan. Kadang naik dari arah belakang, kadang naik dari arah samping, kemudian menemukan cara naik sepeda pun dia temukan sendiri tanpa ada rasa takut terlebih dahulu. Bagaimana cara menjatuhkan sepeda agar posisinya terlentang pun dia temukan dengan sendirinya. 

Continue reading “Menemukan Gaya Belajar Anak_6 “