Bunda Sayang Challange

Aliran Rasa : (Berkaca Diri) Menstimulasi Anak Suka Membacaย 

Tantangan game level 5 kali ini bikin saya merinding manis..haha. Soalnya kali ini tantangannya tentang menstimulasi anak suka membaca. 

Kenapa bisa begitu? Soalnya saya merasa masih amateur banget jadi pembaca yang berkualitas, minat udah gede dari dulu, tapi baca bukunya masih bisa dihitung jari dalam setahun ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ. Kecepatan membaca pun, dipastikan masih level anak bawang deh ๐Ÿ˜ฏ. Belum lagi dari pas udah punya anak, baca tuh pengeeen tapi kok ya serasa gak ada waktu (alias gampang ketiduran kalau baca). Nah sekarang malah harus sudah bisa memunculkan minat anak buat membaca. Wooh, berat beban di punggung ini, mak! Malu daku berkaca diri! ๐Ÿ˜ข

But, slogan game level 5 nya membuat langkah ini lebih bergairah >> for things to CHANGE, I must CHANGE first. 

Cara awal biar anak suka baca, ya anak harus liat emak bapaknya suka baca, sering liat ortunya buka-buka lembaran buku, atau minimal suka bacain anaknya buku. Nah, alhamdulillah, cara ini sudah ditempuh ketika anak kami masih bayi, biar minat baca anaknya bisa tumbuh dari kecil (gak kayak emaknya). 

Tapi bener deh masih PR buat emaknya biar lebih sering baca buku. Karena kadang kala, bacain buku anak sih semangat banget, bercerita kesana kemari biar anak berimajinasi tuh seneng banget ngelakuinnya. Eh tapi giliran emaknya punya target baca, lah suka melenceng terus waktunya alias molor waktu buat bacanya atau malah gak selesai-selesai. Hiks.

Padahal kan buku itu bener-bener jendela dunia, yang bisa mengantarkan pembacanya buat berkelana untuk lebih memahami diri juga kehidupan. Melalui buku pun kita bisa bermimpi seindah-indahnya dan akan tahu bagaimana menggapainya. 

Tapi, tantangan game level 5 ini, membuat saya lebih optimis untuk mewujudkan mimpi agar bisa menjadi keluarga yamg melek literasi, awalnya ya dengan cinta buku dan cinta baca. 

ODOPfor99days2017

Pohon Literasi Raaiq

Hmm..malu juga rasanya nih, pohon literasi yang kami buat belum rimbun. Entah karena bertepatan dengam bulan Ramadhan, jadi fokus kami (terutama saya), teralihkan oleh beberapa agenda lain yanh berbarengan. Ah tapi ini sepertinya alasan saja (tutup muka) ๐Ÿ™ˆ. 

Dan lagi pohon literasi yang kami buat sangat sederhana, minus pohon literasi ayah dan Bundanya, soalnya apa yang kami baca kebanyakan (terutama di Ramadhan ini), lebih banyak baca informasi-informasi virtual yang betebaran di grup WA atau telegram. 

Tapi in syaa Allah kami tetap menemani anak kami, Raaiq membaca, dan berupaya menumbuhkan minat bacanya yang sedang dalam tahap membaca gambar dan berceloteh ala anak kecil yang ngarang-ngarang sendiri sesuai gambar yang dilihatnya. Makanya, kadang kala buku yang dia buka banyak tapu tak sampai beres membacanya ๐Ÿ˜€, jadi pohonnya belum rimbun-rimbun ๐Ÿ˜‚. 

Pohon Literasi Raaiq bulan Ramadhan 1438 H

‘Buku Aiq mana?’

Alhamdulillah selalu senang dengan pertanyaan yang dilontarkannya, ketika menanyakan buku miliknya. Tak selalu melulu kami yang menawarkan untuk membaca, agenda membaca sudah mulai menjadi kebiasaan bagi Raaiq. Aamiin, semoga In syaa Allah. 

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Ucapan Idul Fitri yang Dicontohkan Rasul

Kalau tulisan berikut ini, membantu saya dalam menjelaskan kebiasaan salah yang kadung orang di sekitar saya masih melakukannya. Terutama dulu, ketika saya masih di perantauan.

Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, kalimat yang mereka ucapkan adalah ‘minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.’

Sempat dibuat bingung karenanya, karena bukan itu yang saya ketahui sebelumnya. Tak ada doa di dalamnya. Kenapa yang mereka ucapkan berbeda dengan apa yang saya ketahui? Hmm..mungkin mereka belum tahu saja, pikir saya waktu itu. Tapi kesempatan untuk menjelaskan kepada setiap orang yang mengucapkan rasanya susah juga dan terbatas waktu juga. 

Berikut tulisan yang saya baca, mungkin bisa menjelaskan pada teman-teman yang masih bingung, ketika ada yang mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum

=====

BAGAIMANA UCAPAN IDUL FITRI YANG  SESUAI SUNNAH?

Oleh : Penulis: Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.

Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: 

โ€œMOHON MAAF LAHIR & BATHIN โ€

Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf.

Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. 

Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri…

Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, mengajarkan kita 

“Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan โ€œMohon Maaf Lahir dan Batinโ€ disaat-saat Idul Fitri.

Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan :

“MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”.

Arti dari ucapan tersebut adalah :

โ€œKita kembali dan meraih kemenanganโ€

KITA MAU KEMBALI KEMANA? 

Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? 

Meraih kemenangan? 

Kemenangan apa? 

Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

Satu hal lagi yang mestik dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan

โ€œ Minal โ€˜Aidin wal Faizin โ€ 

Lantas diikuti dengan kalimat,

โ€œ Mohon Maaf Lahir dan Batin โ€. 

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. 

Ini sungguh KELIRU luar biasa…

Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain….

PASTI PADA BINGUNG….

Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.

Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu :

โœ””TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM”

(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).โœ”

Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM / WA,, kita :

โœ”” Selamat  Idul Fitri. Taqobbalallahu minna wa minkum “โœ”

Barakallahu Fiikum

Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Krn kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki

Semoga bermanfaat…

Allahu a’lam

=====

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Tulisan Abah Ihsan Baihaqiย 

Tulisan yang ditulis Abah Ihsan Baihaqi ini semakin meyakinkan saya bahwa orang tua adalah faktor terpenting untuk perkembangan psikologis anak.

Beberapa kasus yang saya tangani di sekolah, akar dari permasalahannya tak lain dan tak bukan adalah dari faktor orang tua. Ada orang tua yang tidak perhatian sama sekali kepada anak, sampai (maaf) anak tidak memakai celana dalam ke sekolah karena banyak yang sobek, dan orang tua tidak membelikannya. Padahal orang tuanya termasuk mampu.

Ada anak yang tulisannya tidak terbaca, padahal sudah kelas atas. Ditelusuri, ternyata orang tuanya sangat sibuk di pekerjaan. 

Ada anak yang prestasi dan motivasi belajarnya sangat kurang, tapi orang tua sangat tidak kooperatif dengan gurunya. Padahal orang tuanya adalah pejabat. 

Semoga tulisan Abah Ihsan ini selalu memotivasi saya dan orang tua lain untuk selalu ‘mengakrabi anak’

==========

Akrablah dengan Anak

Oleh : Abah Ihsan Baihaqi

Ingin anak anda berkurang perbuatan buruknya? Ingin anak menurut dan patuh pada kita? AKRABLAH DENGAN ANAK ANDA

Seorang ayah, dengan mimik sedih bercerita pada saya :

“Abah, anak saya perempuan, kelas 2 SMA. Masuk sekolah favorit dan masuk kelas unggulan. Dia tidak bersemangat sekolah. Saya sangat susah mengorek apa yang terjadi. Saat masuk ke kamarnya, ibunya sering sekali menemukan handphone di bawah bantal.”

Saya wawancarai, saya korek. Lalu ujung-ujungnya saya bilang “Mulai sekarang, akrabi anak anda”

Setelah kira-kira dua tahun, ayah ini menelpon saya : “abah, terima kasih. Setelah konsultasi selama 2 tahun, anak saya memang berhenti sekolahnya. Tapi setelah saya mengakrabinya, saya jadi tahu yang dirasakannya. Ia memutuskan kejar paket dan bersemangat hidup lagi. Sekarang ia kuliah di perguruan tinggi sesuai keinginannya.”

Parents, coba periksa anak-anak bermasalah di sekitar anda. Wawancarai dan periksa bagaimana hubungan mereka dengan orangtuanya. Apakah mereka sering diajak ngomong orang tuanya setiap hari? Diajak ngomong, loh ya, bukan diomongin! 

Wawancarai anaknya ya, bukan orang tuanya. Sebab sebagian orang tua dari anak bermasalah ini sering tidak menyadari bahwa mereka berkontribusi besar terhadap perilaku anaknya sehingga bermasalah meski mungkin tidak disengaja dan tidak disadari.

Ketika anaknya bermasalah, mereka terus saja mengatakan, “Apa yang kurang dari saya? Apa yang kurang? Handphone, mobil, motor, jalan-jalan ke luar negru, semua saya fasilitasi untuk anak saya! Apa lagi yang kurang dari saya?!”

Lalu, anda mungkin akan mengatakan, “yang dibutuhkan anak adalah teladan!”

Coba deh, periksa orang-orang di sekitar anda. Tak sedikit anak yang ayahnya rajin shalat ke mesjid, anaknya begitu santai menunda-nunda shalat di rumah. Kurang teladan apa? 

Anda lihat ke desa-desa. Sebagian ayah mereka bekerja keras di sawah atau ladang, sementara sebagian anaknya asyik Facebook-an. Kurang teladan apa? 

Atau anda lihat anak pejabat, orang kaya, pengusaha sukses, ayahnya sukses jadi pejabat atau pengusaha, tetapi sebagian anaknya menghamburkan uang ayahnya, mengoleksi mobil atau motor balap, nongkrong di jalan, kongkow di kafe tiap hari menghabiskan uang orang tuanya. Kurang teladan apa?

Atau anda juga akan berkata, “kurang perhatian, kali!”

Mereka juga tak akan kalah argumen. Sebagian akan berkata, “Apa? Kurang perhatian? Anda tahu tidak, saya sudah bosan menasihati anak saya. Saya nasihati anak saya tiap hari. Itu kan bentuk perhatian dan kasih sayang saya”

Bahwa teladan itu penting, saya setuju. Itu hal “wajib a’in” yang tak usah lagi diperdebatkan. Bahwa perhatian itu penting, saya juga setuju. Tapi apakah menasihati anak tiap hari akan diterima anak sebagai sebuah bentuk perhatian?

Coba tanya anak, siapa di antara mereka yag betah dinasihati tiap hari? Bagaimana dengan anda? Posisikan diri anda sebagai anak, apakah dinasihati tiap hari itu membuat anda merasa diperhatikan? Merasa dicintai dan disayangi? Mana yang membuat anda merasa disayangi orangtua anda : DIOMONGI orang tua tiap hari, atau DIAJAK NGOMONG orangtua tiap hari?

Ini hasil riset tidak langsung saya. Ini fakta yang dapat anda temukan di sekitar anda dan mungkin tidak anda sadari. Ini bukti nyata yang sangat mudah anda temukan. Lihat kiri kanan anda. 

Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Siapa di antara anda yang waktu remaja dahulu sering curhat pada orang tua?

Dari sekian ribu yang ditanya, hanya sebagian kecil saja yang mengangkat tangan. Ciri akrab yang sederhana adalah sangat terbuka menceritakan masalah, mulai dari lawan jenis yang disukai, pelajaran, pertemanan, dll. Sering diajak ngomong orang tua, bukan hanya diomongin orang tua (beda, kan?)

2. Kepada yang akrab dengan orangtuanya ini, saya ajukan pertanyaan lagi : apakah anda merasa dekat dan lebih mudah mendengar nasihat orang tua plus jadi lebih menurut atau justru jadi lebih sering membantah orang tua? Jawaban mereka hampir kompak, “jadi lebih nurut dgn orang tua”

Banyak orang tua menyangka agar anak dapat dengan mudah dikuasai, agar anak patuh dan menurut, agar anak menghormati orang tua, adalah dengan mengedepankan hukuman fisik berupa kekerasan pada anak. Bahkan dari sekitar 70 kota di 22 propinsi yang sudah menyelenggarakan program pendidikan orang tua, kekerasan fisik pada anak adalah keniscayaan. Istilah “kalau tidak dipukul, anak akan kurang ajar”, masih saja ada yang meyakininya

Bahwa mencubit atau memukul supaya anak menjadi patuh, bisa jadi betul. Coba diingat-ingat kita yang pernah atau sering dicubit waktu kecil, apakah kepatuhan itu betul2 karena kesadaran atau karena TAKUT?

Kepatuhan karena keakraban sangat berbeda. Anak yang tanpa dipukul, tanpa dicubit, tanpa dibentak, ternyata lebih mudah dikuasai orang tuanya. Lebih mudah mendengar orangtuanya, lebih mudah patuh. 

Bahkan saya ingin “memprovokasi” anda lebih keras lagi berkaitan dengan masalah keakraban ini. JANGAN PERNAH MENCOBA MENDISIPLINKAN ANAK JIKA ANDA TIDAK PERNAH MEMILIKI KEDEKATAN EMOSIONAL DENGAN ANAK.

Mendisiplinkan anak tanpa disertai  kelengketan emosional hanya akan membuat hubungan orang tua dengan anak menjadi hubungan yang kering, garing, atau hubungan tanpa makna dan tanpa jiwa. Hubungan seperti ini hanya akan menjadi seperti “komandan dan prajurit” yang formalitas dan minim ekspresi emosi

Fungsi pertama keakraban dengan anak adalah “penjaga kedamaian hati anak”. Ketika anda mendisiplinkan anak, ketika anda mencoba menghentikan perilaku buruk anak, maka suatu saat anda tidak dapat menghindari utk memberikan konsekuensi pada anak.

Ketika anak berlebihan main game atau nonton tv, misalnya, anda bisa jadi mencabut hak main game atau nonton tvnya. Lalu karena tidak nyaman, kemudian anak mencoba mengekspresikan ketidaknyamanannya kepada orgtua “Ayah jahat!” atau “Mama tidak sebaik nenek” atau “temanku tidak pernah dibatasi nonton, kenapa aku dibatasi?!”

Dengan menerapkan hukuman atau konsekuensi pada anak, suatu saat anda akan sampai pada suatu titik keraguan yang akan menggoda anda untuk tidak konsisten menjalankan ketegasan anda. Mungkin sebagian orang tua khawatir “Apakah saya ini akan dianggap anak sebagai ayah/ibu yang jahat dan tidak sayang anak?” 

Ada juga seorang ibu berkata dengan mimik sedih “Ya Allah..abah, anak saya ngomong saya jahat. Sedih betul saya!”

Saya akan katakan : TIDAK AKAN PERNAH! tidak akan pernah anak memiliki pemikiran dan perasaan bahwa anda adalah ayah atau ibu yang jahat meski mulutnya bicara spt itu. Tidak akan pernah anak memiliki pikiran orangtuanya jahat hanya karena anda memberikan konsekuensi pada anak. 

Bahwa anak tidak nyaman saat diberi konsekuensi, itu benar! Namun, konsekuensi tidaklah pasti berarti akan membuat anak kemudian beranggapan bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Selama anda menjaha keakraban dengan anak. itu hanya EKSPRESI EMOSIONAL sesaat dari anak. 

Fungsi kedua keakraban adalah “pemupuk kasih sayang”. Maksud saya begini. Orang tua yang akrab dengan anaknya adalah tanda bahwa mereka menyediakan sebagian tubuh, waktu, pikiran, dan perasaan mereka untuk anak. mereka memupuk cinta pada diri anak-anaknya. Tidak hanya sebatas merasa sayang dalam “pikiran”, tapi mengekspresikan kasih sayang itu secara konkret dalam tindakan nyata.

Maaf jika agak melebar sedikit. Pernah mendengar kisah nyata suami setia yang tidak pernah menikah lagi meski istrinya bertahun-tahun menderita penyakit? Pernah mendengar cerita cinta Habibie dan Ainun yang melankolis itu? Pernah mendengar cerita Muhammad sang Rasulullah yang ketika berumahtangga dengan Khadijah tidak melakukan poligami sama sekali?

Semua lelaki ini mungkin memiliki sejumlah alasan. Jauh hari sebelum sang istri sakir, jauh hari ketika sang Ainun meninggalkan dunia, jauh hari sebelum sang Rasulullah menjadi penguasa, para perempuan ini memiliki persamaan : mereka memberikan cinta terbaik mereka untuk suami mereka. Mereka membangun ikatan emosional dengan suami mereka. Menjalin keakraban.

Apa yang saya ingin ungkapkan adalah ketika kita merasa dicintai dengan sebenar-benarnya, ada perasaan tak nyaman jika kita menyakiti orang yang memberikan cinta itu. Semua lelaki, yang tak bersedia melakukan poligami di atas -meski mereka bisa melakukannya- bisa jadi karena memiliki perasaan tidak nyaman untuk melakukannya. Saking karena merasa sangat dicintai sang istri.

Demikian pula anak-anak kita.

Sekarang, anda coba fokuskan pikiran. Bayangkan anda adalah remaja lelaki berusia 14 tahun. Bayangkan anda sering menghabiskan waktu utk kegiatan bersama ayah (walau tidak setiap hari). Atau setiap akhir pekan anda bersepeda atau main bulu tangkis dengan orangtua anda. Anda punya kegiatan insidental setiap bulan dengan orang tua. Dua bulan lalu kemping ke gunung, bulan lalu mancing di sungai. Pekan ini anda nonton bola di stadion bersama. Sementara musim liburan sekolah nanti, anda sudah bersepakat akan keluar kota selama 4 hari.

Kira-kira apa perasan yang muncul dalam benak anda? Lalu, apa yang akan anda berikan untuk orang tua anda?

Atau, bayangkan anda seorang anak perempuan, usia 13 tahun. Setiap hari anda bebas cerita masalah anda pada ibu anda di kasur, di meja makan, di sofa. Jika ada masalah, pasti anda akan meminta pendapat ibu anda. Ketika anda difitnah teman, anda menangis sesenggukan di pangkuan ibu. Lalu  punggung anda diusap-usap ibu.

Anda pun sering melakukam kegiatan bersama ibu. Bulan lalu, anda diajak kursus membuat brownies. Ibu anda selalu menyempatkan nonton pertandingan basket anda meski kadang terlambat datang. 

Kira-kira apa pula perasaan yang muncul dalam benak anda?  Lalu apa yang ingin anda berikan untuk orang tua anda?

Apapun jawabannya, insya Allah yang positif kan? Mungkin sebagian anda akan rajin berdoa dan mendoakan orangtua “Ya Allah..aku sayang ayahku. Jaga ayahku, ya Allah. Bantu aku jadi anak yang menyenangkan orangtuaku, ya Allah”

Jadi, tidak berlebihan rasanya jika saya ingin mengatakan pada anda: ANDAIKAN SEMUA ORANGTUA DI DUNIA AKRAB DENGAN ANAKNYA, RASANYA KITA AKAN SULIT MENEMUKAN ANAK BERMASALAH DI DUNIA INI : terkena narkoba, hamil di luar nikah, tawuran, dsb

(Buku “7 kiat orang tua shalih menjadikan anak disiplin dan bahagia” karya Ihsan Baihaqi halaman 40-47)

======

#Gamealevel5

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#8

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Waktunya Ayah Bacaย 

Seperti biasa, sebelum saya mengerjakan challange Bunda Sayang, saya selalu melakukan family forum dengam suami, baik langsung maupun via chat kalau suami sedang ada kerjaan di luar kota. Termasuk pada game level 5 ini, melalui chat WA saya menjelaskan bagaimana game ini dilakuan dan keputusannya kami sepakat membuat pohon literasi saja.

———-

‘Kalau baca chatting gimana?’, tanya suami.

‘Hihi, ya gak bisa dong yah. Tapi artikel bisa.’

‘Tapi kan chat di grup yang Ayah ikuti banyak ilmu juga, soalnya tentang forex’

‘________’, saya bingung sendiri. 

———-

Sekitar 3 bulan ke belakang, suami saya memang sedang belajar tentang forex (foreign exchange) terutama yang sudah terbukti tidak melakukan praktek-praktek haram. 

Beberapa grup telegram tentang forex suami ikuti, tak jarang pula ikut aktif diskusi di dalamnya. Memang sih grupnya aktif diskusi kalau kata pak suami, sampai-sampai pernah ditinggal setengah jam udah ada 1000 lebih chat ๐Ÿ˜ฑ. Tapi katanya gak rugi baca manjat satu-satu, ilmu semua katanya. 

Hmm..masuk baca gak ya? *masih bingung. Tapi kalau begitu ceritanya, berarti emang pak suami dapat ilmu dengan membaca kan ya. Yo wis, ayah Raaiq emang bacanya (sekarang) lagi tentang forex yang kebetulan nimba ilmunya lewat grup telegram. 

Nah, salah satu yang bisa diteladani Raaiq dari ayahnya adalah gaya belajar otodidak-nya. Kalau pak suami ingin mempelajari sesuatu hal, doi akan mencari bahan ataupun media yang dapat memfasilitasi keingintahuannya terhadap suatu ilmu. Belajar otodidak pun perlu keahlian membaca kan dalam memahami ilmunya. So that’s the point! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Selanjutnya, kami berdua membuat ‘catatan’, meski kita sering nimba ilmu via grup chat, yang pastinya kita akan mantengin HP terus. Tapi kalau di depan anak taglinenya tetap ‘no HP’, apalagi anak kami belum genap 2 tahun. Anak mana tau kan kita lagi chatting, lagi baca, atau padahal kita lagi baca Quran misalnya. Yang anak tahu, orang tuanya main HP. 

#GameLevel5

#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst 

#4


Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Waktunya Bunda Baca

Sebetulnya target baca Ramadhan kali ini tuh buku Fitrah Based Education karya Ust. Harry Santosa. Eh tapi mau bilang apa, sampai 10 terakhir Ramadhan pun cuma berapa lembar yang sempat dibaca. 

Memang bisa dibilang waktu baca paling efektif bagi saya itu malam hari, kalau Raaiq udah tidur lelap. Tapi sekarang Raaiq tidurnya jam 10 malam, jadi Bundanya susah cari waktu baca biar tenang. Kalaupum siang hari mau baca, bisaaaa tapi sebelum 1 halaman selesai baca, anak udah ngajak main lagi. Dan jujur aja kalau anak saya ini ditinggal baca buku atau kegiatan yang butuh konsentrasi, suka kadang jadi was-was emaknya. Khawatir jatuh lah, atau tumpahin air lah, yang pasti kalau anak ini masih on bisa dibilang perhatiannya harus 90% sama doi. 

Nah, sayangnya kalau Raaiq tidur siang, Bunda yang ngelonin pun ikut terlelap. Ditambah seminggu yang lalu Raaiq sariawan dan demam, alhasil tidur siang dan malamnya pun terganggu. Mata bundanya pun jadi tak terkondisikan untuk baca, yang ada ikut ngantuk karena sama-sama terganggu tidur. 

Ya sudah saya pikir, dari pada tidak baca sama sekali, saya pun selalu sempatkan baca artikel-artikel yang berseliweran di medsos, terutama WA dan FB. 

Karena ini 10 hari terkahir, banyak di grup WA yang share buku digital tentang keutamaan 10 hari terakhir dan catatan tentang i’tikaf. 

Melalui penjelasan K.H. Aceng Zakaria, yang merupakan Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), saya jadi diingatkan kembali bahwa i’tikaf itu bukan hanya sehari dua hari saja, atau bahkan hanya ikut di malam ganjil saja. Tapi i’tikaf itu sepaket 10 malam terakhir (atau 9 malam terkahir jika 29 hari). Untuk selengkapnya bisa dibaca artikel berikut, K.H. Aceng Zakaria : I’tikaf dan permasalahannya.

Selain itu, pas saya surfing di FB saya menemukan artikelnya teh Shanty Dewi Arifin, tentang keterampilan sosial. Judul lengkapnya ‘Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak bersama Anna Surti di Seminar Parenting SGM Eksplor Bandung‘. Pas banget buat saya yang lagi seneng baca artikel tentang social skill.

Oleh-oleh seminar dari teh shanty ini alhamdulillah membantu saya dalam memahami kembali seberapa pentingnya katerampilan sosial ini untuk kesuksesan anak di masa depan. Oia, di artikel ini pun dituliskan bedanya attachment dan bonding loh! Saya pun tepok jidat, oooh itu toh bedanya ๐Ÿ˜€. #kemanaajasaya

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#3

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

‘Uyus’ for Dinosaurusย 

‘Buda, mana uyusnya?’

Kalau Raaiq sudah bertanya itu, berarti bocah ini lagi nyari buku dinosaurus yang seminggu lalu Bundanya belikan. 

Pelafalan yang tidak sempurna ketika menyebutkan dinosaurus memang membuat level kelucuan bocah ini naik beberapa tingkat ๐Ÿ˜€

Tapi tetep ya, orang dewasa di sekitarnya menyebut dinosaurus, biar anak tidak terbiasa dicadel-cadel-in dan menyebutkan dengan ejaan yang benar ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

Nah, setelah beberapa waktu lalu kami mengajak Rq melihat fosil dino di museum geologi Bandung dan miniaturnya di taman lansia. Maka sekarang untuk mewadahi ketertarikannya terhadap dino ini, maka saya belikan bukunya. 

Dan ternyata dari 5 buku yang saya belikan, buku ‘uyus’ ini selalu dicari pertama kalinya. 

‘Buda, mana uyusnya?’

Kalau sudah pegang bukunya, kurleb 3 menit bocah ini bisa anteng bacanya alias bolak balik lihat gambarnya, tak bosan-bosannya menyebutkan mana durinya dan mana ekornya. 

Dan karena buku ini bukan buku cerita, jadi saya selalu mencoba membuat cerita karangan untuk Raaiq, tapi sebelum cerita beres kadang anaknya udah ngacir duluan atau malah lebih antusias menunjukkan apa yang dia lihat. 

‘Buda, mana ekornya’

‘Buda, ini durinya’

Tapi alhamdulillah meski bikin cerita karangan, tapi ada selipan pengetahuan dong. Kalau dinosaurus itu ada yang memakan tumbuhan seperti halnya sapi dan ada juga yang memakan daging layaknya singa. ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡

#GameLevel5

#Tantangan10Hari

#KelasBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#2

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Pohon Literasiย 

Akhirnya, setelah rangkaian acara di sekolah bisa juga ngerjain projek buat pohon literasi yang super very simple ini ๐Ÿ˜น๐Ÿ˜น. Meski begitu, ini hasil kerja sama Raaiq sama Bundanya ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Cuma diorat oret seadanya (soalnya kalau dibilang dilukis asa gaya teuing ๐Ÿ˜ธ ), di atas selembar scetch book A3 punya Ayah Raaiq, pakai kuas dan cat air yang cuma sisa warna cokelat dan kuning

Idealnya sih bikin dari karton atau sejenisnya buat ditempel di tembok layaknya gambar pohon yang real. Jadi nantinya biar lebih kelihatan rimbunnya pohon karena banyak buku yang dibaca

Tapi dari pada ditunda terus ngerjainnya karena ingin yang ideal dan perlu waktu yang tidak sebentar, ya mending take action aja dengan bahan yang ada dan bisa dikerjakan segera. 

Terus dipikir-pikir mending di scetch book aja deh biar nanti bisa diarsipin jadi portfolio Raaiq juga. Lagian kalau ditempel ditembok sudah pasti peluang Raaiq buat nyobek pohon yang ditempel lebih besar.

Moga kalau nanti sikon sudah kondusif bisa buat pohon literasi yang lebih ‘layak’ ๐Ÿ˜€

Yang penting tujuan utama agar Raaiq suka membaca bisa tercapai ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช dan tentu yang utama adalah ortunya bisa jadi teladan yang baik dalam hal membaca

Dan hari ini (juga beberapa hari ke belakang), lagi senang dibacakan buku Hallo Balita yang judulnya ‘Aku Berani Tidur Sendiri’

Sengaja dikenalkan dengan judul buku ini sebagai persiapam Raaiq untuk bisa tidur sendiri

.

#GameLevel5

#Tantangan10hari

#KuliahBunsayIIP

#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

#1

ODOPfor99days2017 · Resume/Review

Resume Kulwap : Tazkiyatun Nafs

9 Ramadhan 1438 H 

Istilah tazkiyatun nafs memang tidak terlalu asing bagi saya yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Bahkan buku tazkiyatun nafs karangan Imam Al-Ghazali sudah lama duduk manis di deretan buku milik ibu saya. Tapi sayangnya, meski saya sudah tertarik dengan istilahnya, tapi sayangnya saya hanya membacanya sekilas-sekilas saja. 

Saya tertarik kembali pada konsep tazkiyatun nafs, khususnya dalam parenting, ketika saya baca salah satu tulisan Ust. Adriano Rusfi tentang tazkiyatun nafs. Setelah jadi ibu muda, hal-hal yang berkaitan dengan parenting memang selalu menjadi daya tarik tersendiri, apalagi ust. Aad (biasa beliau disapa), menghubungkan tazkiyatun nafs ini dengan praktek parenting. 

Alhamdulillah, jodohnya juga saya ikut kulwap yang pematerinya ust. Aad dengan materi tazkiyatun nafs ini. Bulan Ramadhan ini banyak link grup WA yang menawarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat, salah satunya Grup IIP Banyumas Raya yang mengadakan kulwap ini. 

Terima kasih ya IIP Banyumas Raya.

Nah, berikut ini saya share juga resume hasil tanya jawab dengan Ust. Aad plus dengan materinya :).

โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„โ˜˜๐Ÿ„
Tazkiyatun Nafs

Pemateri : Ust. Adriano Rusfi

Kamis, 1 Juni 2017

Demi kesempurnaan jiwa manusia, maka Allah telah ilhamkan kepada manusia jalan dosa dan jalan taqwa. Andai salah satu dari kedua jalan itu tiada atau diamputasi, maka kesempurnaan jiwa manusia akan hilang.

Kenapa manusia butuh jalan dosa (fujur) ? Karena jalan itulah yang akan membuat manusia sadar diri, tahu diri, rajin beristighfar dan membersihkan dirinya. Beristighfar akan membuat turunnya rahmat Allah, dan Allah tambahkan kekuatan kita.

Kebutuhan manusia akan jalan dosa adalah agar manusia memiliki dorongan untuk “nakal”, menembus batas, bengal dan melakukan kesalahan. Ketika dorongan ini dipadukan dengan jalan taqwa, maka akan melahirkan kombinasi kreativitas yang luar biasa.
Kombinasi antara dosa-taqwa itulah yang membuat salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa adalah “melakukan perbuatan keji dan menganiaya diri sendiri, lalu bertaubat” (3 : 135)
Oleh karenanya, yang dibutuhkan adalah upaya penyucian jiwa : tazkiyatun nafs, agar kombinasi kedua jalan ini akan berakhir di pintu surga.

Tanya Jawab
1. Tazkiyatun Naffs
๐Ÿ”น Putri-Purwokerto

Saya baru mendengar istilah tazkiyatun nafs (duh minim sekali ilmunya ๐Ÿ˜…) ustadz mohon  dijelaskan pengertian dan tata caranya bagaimana?

๐Ÿ”น Rofiqoh dari Ajibarang

Bagaimana cara seorang manusia untuk memulai tazkiyatun nafs? Sedangkan ia punya masa lalu yang kurang baik/ kelam? step-stepnya seperti apa?

๐Ÿ”น Supri-Sidabowa

Jika seseorang sering berintrospeksi diri, beribadah, berusaha berbuat baik, beramal sholeh nkamun msh ada kegalauan di hati. Bagaimana solusinya ?

๐Ÿ”น Eka-Purwokerto

klo Rukiyah itu termasuk salah satu sarana Tazkiyatun Nafs bukan Pak Ustad?   

๐Ÿ”น Lily Purwokerto

Bagaimana menimbulkan bashiroh sehingga kita bisa dengan sigap mengetahui kesalahan dalam mendidik anak?

Jawaban:
Tazkiyatun nafs artinya pembersihan jiwa. Kita bisa membacanya pada surah Asy-Syams ayat 7-10:

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Dia telah mengilhamkan kepada jiwa tersebut jalan dosa dan jalan taqwa. Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwa tersebut dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya”


Tazkiyatun nafsi itu dimulai dari jiwa yang memurnikan ketauhidannya hanya kepada Allah semata.
Karena hanya jiwa yang tidak menyekutukan pengabdiannya kepada Allah sajalah yang akan dibersihkan oleh Allah.

Jadi mulailah dari aqidah yang bertauhid, aqidah yang bersih dari mensekutukan Allah. Itulah sebabnya kenapa surah tentang keesaan Allah disebut dengan surah Al-Ikhlas.

Walaupun seseorang itu rajin beribadah, sering introspeksi diri, banyak beramal shaleh, namun tidak mensucikan Allah (tasbih), maka jiwanya akan tetap gelisah.

Kenapa ada orang yang rajin beribadah namun tetap galau ? Karena dia tak mengenal Allah dengan pengenalan yang benar, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Masa lalu yang kelam sama-sekali tak menghalangi seseorang dari tazkiyatun nafs. Kita butuh tazkiyatun nafs justru karena kita punya kekelaman dan kekotoran. Sehingga proses tazkiyatun nafsi itu tak akan pernah berhenti, karena kita akan selalu kembali kotor/kelam. 

Mulailah tazkiyatun nafs dari baik sangka kepada Allah, optimisme, syukur dan tak pernah putus asa dari rahmat Allah. Lakukanlah segala kebaikan yang mungkin kita lalukan, karena kebaikan itu akan menghapuskan keburukan (hadits). Jangan terlalu terpaku pada sisi negatif masa lalu, tapi pada kebaikan masa depan.

Bagi saya, ruqyah bukanlah bagian dari tazkiyatun nafs, walaupun konon bertujuan untuk mengeluarkan jin dari dalam jiwa. Karena, jika jiwa kita tetap kotor, toh jin tersebut akan mudah masuk kembali ke dalam jiwa kita.

Salah satu cara untuk menumbuhkan bashirah adalah dengan banyak melakukan ibadah sunnah, dan sering bertanya pada hati, bukan pada otak
. Hati yang bersih akan cepat menangkap sesuatu yang keliru โœ…

2. Inner Child
๐Ÿ”น Dea – Baturraden

Bgmn langkah agr qt bs brdamai dg masa lalu? Krn trkdg didikan keras ortu mmg tnpa sadar dlakukan jg oleh ssorg pd anak2nya..

๐Ÿ”น Putri- Purwokerto

Apakah bisa membantu masalah psikis ortu yang mempunyai “masalah” dg masa lalunya, untuk kasus ortu yang tidak bisa menerima kondisinya sendiri? Misal: dulu dia kaya, sekarang hidup pas2an. Karena tidak menerima kondisi saat ini, bersikap dan bergaya hidup hedon yg memaksakan sehingga memberatkan pasangannya, dan sepertinya ybs tidak menyadari hal itu justru semakin menuntut untuk mencukupi keinginannya.

๐Ÿ”น Sulistya Rini- berkoh purwokerto

Suami saya tumbuh dikeluarga yang “keras” seringnya konflik bapak-ibu(mertua saya). Dan suami saya sepertinya menjadi keras hati, suka membentak anak, dan perkataan kasar sering keluar ketika marah dgn anak. Tidak sabaran dan juga tertutup. Sebagai istri saya sudah berusaha membantunya seperti bersikap sabar atas segala amarahnya, mengajak ngobrol dan mengingatkan dari hati ke hati. Tp selama 10 tahun pernikahan kami seolah tidak ada yg berubah dari dia. Meski kami tinggal jauh dari orangtua sepertinya energi negatif dari mertua selalu mengikuti suami. Apa yang harus kami lakukan?Terima kasih.

๐Ÿ”น Nn, Purwokerto

Assalamualaikum Ustadz, suami saya kadangkala keras memarahi jika anak pertama kami memukul atau menggigit adiknya, tanpa ditelusuri dulu kenapa si kakak berbuat seperti itu. Respon negatif dari suami ini seringkali muncul seperti di luar kendali. Kami pun akhirnya mencoba menelusuri. Hingga bisa menemukan inner child suami saya, sejak kecil sering dipukuli kakaknya hingga SMA. Oleh karena itu, ketika anak pertama kami berbuat tidak baik kepada adiknya, emosinya muncul. Dia langsung memarahi, karena dia tidak mau peristiwa yang dialaminya dulu terulang lagi. Penemuan inner child ini alhamdulillah cukup melegakan, namun bagaimana selanjutnya. Bagaiman proses cleansing-nya?Terima kasih.

๐Ÿ”น Ririn-Ambon

Bagaimana mengembalikan fitrah anak yang dlm kondisi bersama orang tua yang tidak bisa mengendalikan inner Child nya yang kurang bagus

๐Ÿ”น Luthfita, Purwokerto

Bagaimana cara (metode) berdamai dengan innerchild dengan tazkiyatun nafs? Ketika sudah berdamai apakah ada kemungkinan “kambuh” lagi di kemudian hari? Misalnya karena mendapat perlakuan negatif yang sama dari pelaku yang sama di masa lalu?

๐Ÿ”น Nuning – Bogor

Bagaimana menghilangkan kecemasan atau trauma dari masa lalu..pada diri kita dan anak2?

๐Ÿ”น Rofikoh-Ajibarang

Apakah anak yg nakal, rewel, atau tidak mematuhi orang tuanya ada hubungannya dengan tazkiyatun nafs kedua orang tuanya?Terimakasih.

Jawaban :
Masa lalu, baik positif maupun negatif, adalah warisan terbaik yang Allah berikan pada kita. Kata kuncinya adalah : bagaimana kita memaknai dan mengambil hikmah dari masa lalu.

Orang yang di masa lalu pernah dididik sangat keras oleh orangtuanya, boleh jadi memang Allah siapkan untuk menghadapi kerasnya kehidupan, atau juga agar mendidik anak-anaknya dengan sedikit keras. Bukankah kebanyakan manusia sukses adalah buah didikan “keras” dari orangtuanya ? Yang penting : ambil yang berguna dan buang yang buruk.

Bagi mereka yang dulunya kaya dan sekarang pas-pasan, seharusnya mereka bersyukur. Karena mereka akan membesarkan anaknya dengan perjuangan dan penderitaan, tapi tetap dengan harga diri seorang kaya.
Betapa banyaknya orangtua yang bingung mendidik anaknya dengan perjuangan dan penderitaan, karena saat ini dia “terlanjur” kaya. Padahal dia sadar bahwa manusia sukses adalah manusia yang dididik dengan perjuangan dan penderitaan.

Saya sendiri justru adalah orang yang sengaja “memiskinkan” diri saat menikah, padalah masa bujangan saya sangat berkecukupan. Itu karena saya sadar bahwa saya dan anak-anak saya harus berjuang untuk menggapai sukses.
Untuk suami yang sering membentak anak, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan :

Pertama
, menyadarkan suami dengan pengalaman masa lalu betapa sakitnya dikasari dan dibentak oleh orangtua, sehingga berjuang untuk mengakhiri “pusaran kekerasan” itu. Mungkin bisa minta bantuan orang lain untuk menyadarkan suami.


Kedua
, bunda harus lebih berperan untuk mengobati luka psikis anak akibat bentakan ayahnya. Jika suami sangat keras, maka imbangilah dengan kelembutan yang tinggi. Ingatkan juga pada anak untuk tetap berbaik sangka terhadap sikap keras ayahnya. Dan sadarkan juga pada anak agar “tidak mengulangi sikap keras ayahnya kelak kepada anaknya”
Nah, beberapa kasus perlakuan tidak tepat ayah terhadap anaknya ini juga disebabkan oleh minimnya ilmu parenting seorang ayah. 

Makanya, doronglah mereka untuk ikut sesi-sesi parenting. Kalau perlu mendirikan Majelis Luqmanul Hakim untuk para ayah.

Tentang inner child para orangtua, sekali lagi mari kita nggak terlalu mempermasalahkan dan menyalahkan masa lalu, yang penting adalah mensikapi masa lalu dengan cara yang lebih positif.

Sedangkan anak yang hidup dengan orangtua inner child-nya kurang bagus, maka percayalah bahwa Allah-pun juga mempersiapkan mental sang anak untuk menghadapi dan mengatasinya.
Jangan lupa, sering-seringlah berdoa pada Allah agar Dia menghapus, mengkoreksi dan memperbaiki masa lalu yang negatif. Dan “tutupilah keburukan dengan kebaikan. Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya” (hadits)
Anak yang nakal, rewel atau tak patuh memang boleh jadi ada kaitannya dengan kebersihan jiwa kedua orangtuanya. Apalagi jika hampir semua anak berkelakuan sama. Sebagaimana kata Imam Syafi’i :

“Saat aku tak taat pada Allah, jangankan anak-anak dan istriku, bahkan anjingkupun tak taat padaku” โœ…

3. TN dengan Parenting
๐Ÿ”น Putri- Purwokerto

Apakah tazkiyatun nafs diperlukan semua ortu sehingga bisa membantu membangun pondasi yng kuat dalam mendidik anak2, atau hanya untuk yang mempunyai masalah saja?  

๐Ÿ”น Lily -Purwokerto

Sebenarnya modal terbaik dalam parenting apa,ustadz? Sehingga sebagai orangtua kita tetap percaya diri dengan metode pendidikan yang kita terapkan pada anak-anak kita. Karena saat ini hal benar dianggap salah dan sebaliknya ๐Ÿ˜ขSebenarnya modal terbaik dalam parenting apa,ustadz? Sehingga sebagai orangtua kita tetap percaya diri dengan metode pendidikan yang kita terapkan pada anak-anak kita. Karena saat ini hal benar dianggap salah dan sebaliknya.

Jawaban:

Tazkiyatun Nafs adalah kebutuhan kita semua, karena setiap kita jiwanya pasti akan kotor kembali walaupun telah berkali-kali dibersihkan. 

Lagipula, Allah mencintai hambaNya yang membersihkan dirinya, dan tak menyukai hambaNya yang bersih (Hadits Qudsi)
Modal terbaik dalam parenting adalah fitrah keayahbundaan yang telah Allah ilhamkan ke dalam jiwa kita. Masa lalu kita juga modal parenting yang baik. Cara-cara kedua orangtua kita dalam mendidik kita juga modal parenting yang baik. Watak dan kepribadian kita juga modal parenting yang baik.

Jadi, salah satu prinsip dari parenting agar modal kita kaya adalah : berdamailah dengan diri, masa lalu, pola asuh orangtua dulu dan dengan anak-anak kita. Syukurilah semuanya sebagai takdir dan hadiah dari Allah. Lalu manfaatkanlah segala aset itu secara bijak untuk mendidik anak-anak kita. jangan lupa untuk senantiasa meminta bimbingan Allah โœ…

4. Mengendalikan Emosi
๐Ÿ”น Ulfahzulaikha-Sukoharjo

Bagaimana ya ustadz agar tidak mudah emosi  dan bentak anak?

๐Ÿ”น Elsa- jambi

Bagaimana cara mengendalikan emosi yang datang tiba2?

Soalnya,,sekarang ini,,jika saya sudah meledak marahnya,,anak 1 yg umur 3y9m sudah berani memukul saya dengan geramnya?

Jawaban:
Kesibukan seorang ibu yang tidak ada habis-habisnya, rutinitas dalam mendidik anak dan mengasuh rumah tangga yang membosankan serta kenakalan-kenakalan anak yang membuat naik pitam, itu memang mudah membuat seorang ibu kehilangan kesabaran, membuat emosinya mudah meledak, lalu marah-marah.

Oleh karena itu, dalam pendidikan anak seorang ibu harus didampingi oleh seorang ayah. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh ibu dalam berhadapan dengan anaknya, sebaiknya dikonsultasikan dan dilaporkan kepada ayah. Biarlah Ayah yang mengatasi permasalahan tersebut.

Bagaimanapun, seorang ayah yang tidak setiap saat berurusan dengan permasalahan anak lebih mampu mengendalikan emosinya, lebih jernih dalam melihat permasalahan, dan lebih bijak dalam mengatasi masalah masalah anaknya.
Itulah sebabnya kenapa dalam pendidikan anak peran ayah begitu penting, termasuk untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mudah meledakkan emosi

5. Perbedaan Pola Asuh Suami Istri
Dewi – Purwokerto

Jika ada orang tua yg pola asuh keduanya(antara suami dan istri) bersebrangan dimana istri agamis sedangkan suami cenderung hedonis dan memanjakan dengan materi bagaimana solusinya.

Lily – Purwokerto

Ustadz,jika di luar Negri sudah jadi pemandangan yang jamak,ayah-ayah mendorong stroller bayi pergi belanja ke supermarket tanpa didampingi istrinya,tapi disini pemandangan yang terjadi sebaliknya,seolah hanya ibu yang pontang panting mengurus anak. Kalaupun ada,maka orang akan menatap heran (pengalaman pribadi,hehee). Ini bagaimana menurut ustadz? Bukankah peran ayah justru jadi motor utama dalam sistem pendidikan anak? Atau sebenarnya bagaimana Islam menaruh perhatian akan hal ini?

Jawaban:
Rumah itu bagaikan sebuah sekolah. Maka dalam sebuah rumah harus ada Kepala Sekolahnya dan harus ada gurunya 
Kepala Sekolahnya adalah ayah, sedangkan gurunya adalah Bunda. Ayah lah yang menetapkan Visi, misi dan strategi pendidikan, sedangkan Bunda adalah pelaksana harian yang secara teknis lebih paham bagaimana mendidik anaknya.

Oleh karena itu, supaya tidak terjadi benturan arah, teknik dan metodologi pendidikan anak, Ayah harus memainkan peran sebagai penanggung jawab pendidikan. Tentunya dalam hal ini ibu juga harus banyak memberikan masukan-masukan. Apalagi jika secara nilai ibunya yang lebih Islami sementara ayahnya lebih hedonis. Sehingga dalam hal ini ayah menetapkan kebijakan tapi nilai-nilainya harus mendapatkan masukan dari ibu. 

Kemudian yang kedua, sebenarnya dalam ajaran islam peran ayah dalam mendidik anak itu lebih utama dan lebih dominan. Kalau kita datang ke negeri-negeri muslim di Timur Tengah, kita justru akan melihat di mall-mall itu yang membawa troli itu adalah ayah. Di pasar pasar yang akan kita lihat kebanyakan adalah laki-laki bukan perempuan. Karena pada dasarnya tanggung jawab non domestik ada di tanam para ayah.

Namun demikian dalam budaya patriarki seperti di Indonesia, hal ini memang dipandang janggal. Oleh karena itu mari kita dorong para ayah untuk lebih banyak belajar tentang prinsip-prinsip pendidikan anak agar mereka sadar bahwa peran mereka begitu penting dalam pendidikan anak.

Ayah juga perlu lebih didorong untuk memahami ajaran ajaran Islam dalam berumah tangga. Kalau mereka belajar tentang ajaran Islam di rumah tangga, mungkin mereka akan terkejut bahwa di zaman Rasulullah dan para sahabat ra itu yang memasak, mencuci dan sebagainya justru diperankan oleh seorang ayah.

6. Ragam Pengasuhan
๐Ÿ”น Dewi-Purwokerto

Bila kita melihat di depan mata ada seorang anak sedang d marahi orang tuanya sampe dipukuli bagaima kita harus bersikap agar si anak tak merasa d bela lalu jadi tidak sopan pada orang tuanya dan orang tuanya juga tidak merasa tersinggung atau dipermalukan.

๐Ÿ”น Tika, purwokerto

apakah mendekatkan (boleh memegang, membuka) anak dengan Al Quran diusia batita bsa mnjadi salah satu upaya utk menjadikan pondasi dalam mendidik anak?

karena saat ini anak saya 3th sudah hapal beberapa surah walau tidak sempurna, namun karena akal yg msh belum sempurna ia belum bisa memperlakukan Al Quran yang khusus saya berikan untuknya sebagaimana mestinya, misal kadang terinjak, bagaimanay sobek dsb meskipun sudah saya sounding bagaimana memperlakukan Al Quran.

Apabila dilarang ia pasti akan merengek mencari dmna Al Quran miliknya, tp jika diperbolehkan saya kadang takut dosa ustad krn perlakuannnya thd Al Quran tsb, secara niat saya ingin ia butuh terhadap Al Quran. mohon pencerahan..๐Ÿ™๐Ÿผ

๐Ÿ”น Nisa pekalongan

Bagaimana ya membuat anak konsentrasi.. misal hari ini dia ada project bikin kue kering dia sendiri yang minta..nah,waktu hari H nya dia berhenti ditengah jalan..ada saja alasan nya,kadang mengalihkan perhatian.. ahirnya ga selesai project nya.. bagaimana mensiasatinya ya?

๐Ÿ”น Ririn-Ambon

Kekhawatiran saat anak tidak menjalankan kesepakatan yang telah di buat bersama. Khawatir mereka tidak mau menurut sama saya dan mereka berbuat sesuai kehendak mereka saja pdhl mereka msh anak-anak yang belum bisa cenderung berfikir dl dlm bertindak tp lebih mengedepankan tuk kesenangan aja. Bagaimana mengatasi kejadian seperti ini? 

๐Ÿ”น Desy Dari Batam

Anak saya usia 23bln. Tp komunikasi sudah lancar. Sudah paham larangan. Dlu wkt usia dibawah 23bln. Setiap dilarang selalu nurut. Tp smakin besar koq semakin (seolah2) tdk mendengar. Jika minta sesuatu sudah bisa merengek dan ngamuk jk tdk dituruti. Saya diamkan saja. Tak menuruti permintaannya. Tp dlm hati kesal wlo sudah dijelaskan dg lembut tetap menangis. Bahkan skrg sudah bs meledek. Tidak boleh injak buku. Klo injak buku saya hukum masuk kamar sendiri dan sy dluar. Atau sy berdirikan diujung dinding sambil menghadap dinding. Ini dy menangis jerit2. Tp ttp sy laksanakan hukuman. Kemudian besoknya dy seolah2 menguji “sengaja menginjak buku” atau sengaja tdk mendengar perintah seperti pakai sepatu,Apakah tepat saya menghukum anak saya berdiri menghadap tembok atau masuk kamar sendirian dlm usianya sperti itu. Bagaimana membuat dia mendengar dan patuh atas larangan yg diberikan ? Terimakasi ustdz

Jawaban:
Untuk bunda Dewi di Purwokerto, jika kita menyaksikan ada orang tua yang memperlakukan anaknya secara tidak patut, sebaiknya kita tidak melakukan intervensi secara langsung. Namun demikian, kita bisa mengajak ngobrol kepada orang tuanya dalam situasi santai, dalam waktu yang nyaman di tempat tertentu.

Kecuali jika perlakuan orang tua terhadap anaknya itu sifatnya telah masuk kategori kriminal, misalnya menyiksa, memukul dengan kasar  apalagi anaknya masih sangat belia. Maka pada saat itu kita memang berhak untuk mencegahnya, bahkan melaporkannya ke pihak yang berwajib.

Namun jika tindakan tak pantas orang tua tersebut tidak sampai pada menciderai jiwa dan kehormatan anak, maka sebaiknya kita memberikan nasehat pada waktu yang tepat.

Bunda Tika di Purwokerto, pada dasarnya mendekatkan anak dengan Alquran adalah sebuah perbuatan yang baik dan sebuah pendidikan yang baik. walaupun Alquran yang dimaksud tidak harus berupa sebuah mushaf. Toh sekarang ini Alqur’an bisa kita temukan di laptop, bisa kita temukan di gadget dan sebagainya. Sehingga kehawatiran yang tadi ibu bayangkan itu bisa dihindarkan.

Namun demikian jika kita memang harus mendekatkan anak-anak dengan Mushaf Al Quran, tentunya jika dia masih terlalu kecil ada resiko dimana Alquran itu bisa rusak. 
Nah pada situasi semacam ini tentunya yang harus kita hindari adalah jangan sampai Alquran itu ada yang robek, karena merusak keutuhannya.

Dan di sisi lain saya juga ingin menyampaikan : walaupun kita sangat ingin mendekatkan anak dengan Al Quran sedini mungkin, tapi sekali lagi pembelajaran pembelajaran yang bersifat Syariah itu sebaiknya kita perkenalkan pada saat anak telah berusia mumayyiz, alias 7 tahun. Karena pada saat itu kita lebih mudah memperkenalkan kepada anak mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak.

Bunda Nisa di Pekalongan, tentang pendidikan konsentrasi, itu sangat tergantung dari anak itu telah berusia berapa. Jika usianya masih dibawah 5 tahun, tentunya kita tidak bisa berharap anak itu dapat berkonsentrasi dalam waktu lama. Karena memang fokus, minat, hasratnya pada saat itu masih berubah-ubah
Oleh karena itu  jika usia anak kita masih dibawah 7 tahun, janganlah kita memaksakannya untuk melakukan suatu pekerjaan atau project dimana membutuhkan konsentrasi anak dalam rentang waktu yang panjang.

Sebenarnya pendidikan berbasis project baru cocok pada saat anak telah berusia 10 tahun atau duduk di kelas 4. Karena pada saat itu fokus  konsentrasi, daya tahan dan minatnya sudah relatif lebih stabil.

Bunda Ririn dari Ambon, sekali lagi itu sangat tergantung dari anaknya telah berusia berapa.
Membangun kesepakatan baru cocok pada anak-anak yang telah berusia 10 tahun keatas. Karena anak pada usia 10 tahun sudah kita ajarkan tanggung jawab sosial, kontrak sosial dan kesepakatan sosial.

Namun jika kesepakatan kesepakatan tersebut telah kita upayakan pada anak dibawah 10 tahun, apalagi pada anak dibawah 7 tahun, adalah sangat wajar kalau kemudian mereka akan cenderung melanggar kesepakatan-kesepakatan tersebut. Permasalahan terbesarnya sebenarnya bukan pada anak, tapi kepada kita yang terlalu cepat dalam membangun kesepakatan dan kontrak sosial.


Pada anak yang berusia 7 sampai 10 tahun fokuskan dulu sajalah pada tanggung jawab pribadinya, seperti meletakkan tas, menyimpan buku, merapikan pakaian dan sebagainya.
Untuk bunda Desy dari Batam, kok saya melihatnya terlalu cepat ya anak usia 23 bulan sudah dihadapkan dengan instruksi dan larangan.

Memang pada awalnya dia akan patuh dan menurut. Tetapi ketika dia mulai memasuki usia 2 tahun, dia akan cenderung melanggar dan melawannya. Karena dalam dunia psikologi usia 2 tahun disebut sebagai fase negativistik, yaitu fase untuk membantah  melanggar dan melawan instruksi.


Fase negativistik itu terjadi karena sejak umur 2 tahun anak telah memiliki konsep diri. Dia telah memiliki pemahaman tentang Aku
, ingin menunjukkan kepada orang dewasa bahwa dia sudah punya kehendak sendiri. Fase negativistik ini pada dasarnya baru akan berkurang saat anak memasuki usia 6 atau 7 tahun.โœ…

๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’๐Ÿ‚๐Ÿ’

https://www.facebook.com/IIPBanyumasRaya/

Bunda Sayang Challange · ODOPfor99days2017

Aliran Rasa : Gaya Belajar Anakย 

If a chlid can’t learn the way we teach, maybe we should teach the way they learn.

-Ignacio Estrada-

Tak aneh lagi kalau tantangan di Bunda Sayang IIP memang selalu membuat saya semakin aware terhadap perkembangan anak setiap harinya, bahkan dari setiap detiknya. 

Watch, engage, listen menjadi formula andalan dalam mengobservasi anak ketika membersamainya. Setiap tingkah polahnya, celotehannya, rengekannya, tangisannya, bahkan sentuhannya menjadi ‘data’ setiap harinya sebagai bahan observasi saya setiap harinya.

Dalam mengobservasi gaya belajar kali ini, rasanya saya agak kebingungan memang di awalnya. Beberapa sceptical question saya ajukan kepada diri saya sendiri. Mengajak berdiskusi dengan saya yang masih mempertanyakan apakah gerangan gaya belajar Sang Buah Hati, Raaiq.

Apakah benar Raaiq memiliki kecenderungan salah satu gaya belajar atau malah perpaduan di antara ketiganya?

Data yang saya kumpulkan memang kadang kala menunjukkan gaya belajar yang berbeda-beda setiap harinya. Kadang kala yang ditunjukkan gaya belajar visual, kadang audio, atau kinestetik.

Saya makin bingung, belum berani mengambil kesimpulan. Saya buka lagi materi-materi mengenai gaya belajar di kelas Bunda Sayang. Saya bolak balik baca materinya. Terbuka sedikit demi sedikit pertanyaan saya. 

Bahwa memang tidak harus semua anak memiliki kecenderungan terhadap salah satu gaya belajar. Bisa jadi anak memiliki perpaduan ketiga gaya belajar tersebut. Tergantung juga pada situasi yag dihadapi anak. Nah, tugas kami lah sebagai orang tua untuk memberi stimulasi dari ketiga gaya belajar. 

Oke saya pun bisa mulai sedikit menyimpulkan, kalau Raaiq memang memiliki perpaduan ketiga gaya belajar itu sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami. 

Maksudnya?

Begini, gaya belajar kinestetik muncul ketika dihadapkan dengan alam/lingkungan luar dan mainan/benda yang baru. 

Di luar rumah, Raaiq bisa dibilang tidak suka dengan stagnansi, misalnya duduk berlama-lama atau digendong oleh orang tuanya. Kalau kita pergi jauh, anak ini pasti menolak masuk mobil, meronta-ronta, karena ruang geraknya terbatas. Raaiq juga cenderung lebih suka ekplorasi sendiri benda/mainan baru, kalau dicontohkan atau diperlihatkan malah cenderung tidak terlalu suka. 

Nah, ketika dia mendapatkan kesulitan ketika mengeksplorasi, biasanya Raaiq mengembangkan gaya belajar visual dengan bertanya ‘bagaimana?’. Artinya Raaiq minta untuk dicontohkan bagaimana suatu benda berfungsi. 

Sedangkan gaya belajar audio, ini terbukti dari cara menangkap suara dan bunyi lewat hapalan Quran dan lagu-lagu. He is very awsome! *kata emaknya mah..hehe

Begitulah kesimpulan saya sementara waktu, masih banyak PR yang harus saya kerjakan terkait observasi ketiga gaya belajar Raaiq ini. Tapi betul poin pentingnya adalah harus sebaik mungkin untuk menstimulasi modalitas gaya belajarnya melalui ke-7 panca inderanya, sehingga kita punya data akurat dalam membimbing anak sesuai gaya belajarnya. 

Kalau kata bu Septi mah :

Yang penting anak pernah merasakan semua gaya belajar. Secara fitrah dirinya akan belajar mengikuti “suara hati kecil” akan menggunakan gaya yang mana, atau mengkombinasikan banyak gaya bergantung badai yg dihadapi .Ikuti suara hati kecil itu biarkan dia yang bersujud membisikkan ke seluruh bumi dan diamini oleh seluruh penghuni langit. (Septi Peni Wulandani)

=====

#Aliran Rasa 

#Level4

#KelasBunsayIIP

#GayaBelajarAnak